Keamanan Pangan Masih Perlu Perhatian

WONOSOBOZONE – Keamanan pangan masih perlu perhatian dari Pemerintah dan semua pihak. Hal tersebut saat ini  masih jadi issue strategis, karena dari hasil pemantauan (sidak) menjelang lebaran 2016, dari 113 sampel makanan yang disinyalir mengandung zat berbahaya, ditemukan 60 sampel tidak aman, yakni masih ditemukannya borak, formalin, dan rhodamin B, serta makanan kadaluarsa. Hal ini dikatakan Kepala Bagian Perekonomian dan Ketahanan Pangan Setda Wonosobo, Harti, saat membuka Sosialisasi Mutu dan Keamanan Pangan bagi Pegawai Pemerintah Kabupaten Wonosobo di resto ongklok, Selasa, 23 Agustus.
Dalam acara yang juga menghadirkan tiga nara sumber dari tiga instansi terkait, Dinas Kesehatan, Kantor Perindag, dan Bappeda Wonosobo, menurutnya, keamanan pangan bukan hanya merupakan isu dunia tapi juga menyangkut kepedulian individu. Jaminan akan keamanan pangan adalah merupakan hak asasi konsumen. Pangan termasuk kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan manusia.
Rita Puspita, salah satu nara sumber dari Dinkes, mengutarakan, meskipun pangan itu menarik, nikmat dan tinggi gizinya jika tidak aman dikonsumsi, praktis tidak ada nilainya sama sekali.
Menurutnya, keamanan pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya perhatian terhadap hal ini, telah sering mengakibatkan terjadinya dampak berupa penurunan kesehatan konsumennya, mulai dari keracunan makanan akibat tidak higienisnya proses penyimpanan dan penyajian, sampai resiko munculnya penyakit kanker akibat penggunaan bahan tambahan (food additive) yang berbahaya.
Rita menambahkan, lebih dari 90% terjadinya penyakit pada manusia yang terkait dengan makanan (foodborne diseases) disebabkan oleh kontaminasi mikrobiologi, yaitu meliputi penyakit tipus, disentri bakteri/amuba, botulism, dan intoksikasi bakteri lainnya, serta hepatitis A dan trichinellosis, maka perlu dilakukan upaya keamanan pangan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda fisik yang dapat mengganggu, merugikan dan  membahayakan kesehatan manusia.
Hal senada dikatakan Siti Nurmar Asiyah, nara sumber dari Bappeda,  yang mengatakan bahwa keamanan pangan merupakan aspek yang luas, melibatkan lintas stakeholder terkait untuk mencapai tujuan dalam penanganannya, dengan membuat kebijakan dan strategi pengawasan keamanan pangan, dengan penguatan kelembagaan kelompok kerja pengawasan pangan, pengawasan produk impor yang beredar di pasaran, dan meningkatkan sarpras penunjang pengawas keamanan pangan. Kedepan harus dilakukan pemasangan label pada produk pangan yang sudah ada pengakuan resmi, sebagai sarana bagi masyarakat, bahwa produk pangan tersebut layak dikonsumsi.
Sementara itu Oman Yanto nara sumber dari Kantor Perindag menegaskan, bagi para pelaku usaha harus memperhatikan produknya, seperti syarat pelabelannya, nama  produk dan merek dagang, daftar bahan atau komposisi, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat perusahaan, tanggal kadaluarsa, nomor pendaftaran (md/ml), kode produksi (dd/mm/yy), serta penandaan SNI.
Diharapkannya, melalui sosialisasi sejenis, para pegawai yang ikut andil dalam sosialisasi keamanan pangan ini bisa mensosialisasikan dimulai dari lingkungan kerja dan lingkungan tempat tinggal mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here