Jepara Study Banding Pengelolaan GSIB di Wonosobo

WONOSOBOZONE -Pemerintah Kabupaten Jepara melakukan study banding pengelolaan Program Gerakan Sayang Ibu dan Bayi (GSIB) di Kabupaten Wonosobo, Rabu, 30 Maret, di Pendopo Wakil Bupati.
Menurut ketua rombongan, Asisten Pembangunan Setda Jepara, Edi Sujatmiko, meski secara kultur sosiologis masyarakat Jepara dan Wonosobo hampir sama, pihaknya merasa perlu untuk belajar pengelolaan GSIB di Wonosobo. Hal ini didasari oleh berbagai raihan Kabupaten Wonosobo sebagai pengelola terbaik program GSIB, baik di tingkat Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.
Bahkan sejak tahun 2007 sampai 2015, Kabupaten Wonosobo berturut-turut selama 7 tahun menjadi yang terbaik di Jawa Tengah.Menanggapi hal ini, Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo menyampaikan, konsep GSIB dilakukan melalui pendekatan dan pemberdayaan masyarakat, yang mana pada hakekatnya merupakan pengalihan pengelolaan tanggung jawab secara bertahap dari Pemerintah kepada masyarakat, dengan kegiatannya lebih banyak menitikberatkan pada mobilisasi potensi masyarakat melalui model pendekatan pengembangan masyarakat (coomunity development approach), yang basis operasionalnya terletak pada pembentukan minat dan konsensus yang sama.
Terkait hal ini, sebagai wujud komitmen Pemkab Wonosobo, dalam pengelolaan program GSIB dilakukan peningkatan variasi yang terintegrasi dengan program peningkatan kualitas hidup perempuan, program penurunan kematian bayi, program ASI eksklusif 6 bulan, program kesehatan reproduksi dan peningkatan derajad kesehatan remaja putri.
Komitmen ini juga selaras dengan upaya penanganan permasalahan kesehatan ibu di Kabupaten Wonosobo, yang sebagian besar dipengaruhi oleh rendahnya partisipasi kaum pria dalam urusan kesehatan perempuan serta masih ditemukannya masalah kehamilan yang tidak ideal, seperti terlalu banyak melahirkan, terlalu muda, terlalu tua dan terlalu sering atau 4T.
Senada dengan Wakil Bupati, Kepala BKKBPPPA Wonosobo, Junaedi, mengemukakan, keberhasilan Wonosobo tidak lepas dari keseriusan Pemkab Wonosobo, dalam melaksanakan program peningkatan kualitas hidup serta perlindungan anak dan perempuan, khususnya di bidang kesehatan, seperti pencegahan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara, pembinaan lokasi Kecamatan Sayang Ibu dan Bayi (KSIB) serta penyusunan dan pembuatan dokumen/instrumen data pendukung program GSIB.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari penerapan strategi Pengarusutamaan Gender pembangunan di Kabupaten Wonosobo, yang diarahkan agar mampu memberikan akses yang adil bagi perempuan dan laki-laki dalam berpartisipasi, melakukan kontrol dan mendapatkan manfaat pembangunan, yang mana tolok ukur keberhasilan pengintegrasian strategi pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan dapat terlihat dari capaian Indek Pembangunan Gender (IPG) dan Indek Pemberdayaan Gender (GEM), dengan kondisi capaian IPG Kabupaten Wonosobo pada tahun 2013 baru pada angka 58,30 sementara GEM 54,98.
Khusus untuk pembinaan GSIB di wilayah, bertujuan untuk menguatkan komitmen pemerintah kecamatan dan pemerintah desa dalam pengelolaan program GSIB, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam urusan kesehatan ibu dan anak, menumbuhkan kepedulian tokoh agama dan masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak, serta meningkatkan peran dan fungsi Satgas GSIB kecamatan dan desa.Junaedi menambahkan, setidaknya di Wonosobo sudah ada 8 Kecamatan yang menyandang predikat Kecamatan Sayang Ibu dan Bayi. Terakhir disandang Kecamatan Sukoharjo, melalui Satgas GSIB desa Kupangan, yang menerapkan kebijakan, pasangan calon pengantin, sebelum disahkan KUA, harus melewati tiga tahap, yakni pembekalan oleh UPT KB kecamatan, berupa pendidikan kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga sehat dan program orang tua hebat, serta pemeriksaan kesehatan di Puskesmas dan pembelian dua bibit sirsat madu di penyuluh pertanian Kecamatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here