Jadi Tujuan Wisata Religi Peziarah Dari Luar Kota, Makam Kyai Santri Butuh Perhatian

WONOSOBOZONE – Di Dusun Semunggang, Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, terdapat sebuah makam ulama besar yang diyakini merupakam keturunan dari Raden Sahid (Sunan Kalijaga) dan Raden Sangit (Sunan Muria) .
Menurut KH Khamim Al Mustafa selaku pengelola komplek makam, di tempat itulah jasad Kyai Raden Santri dan istrinya dikebumikan, setelah berjuang menyebarkan agama Islam dan memerangi kejahatan di seantero Negeri.
“Makam ini sudah berusia hampir 400 tahun, dan memiliki keunikan berupa pusaranya yang memanjang mencapai 6 meter,” jelas Kyai Khamim ketika ditemui Senin (1/2). Mengingat nama besar Kyai Raden Santri, kini komplek makam seluas hampir 1000 meter persegi itu diakui Khamim banyak didatangi peziarah.
“Yang datang untuk berziarah tak hanya warga Wonosobo, tapi banyak pula yang dari luar kota, bahkan pernah ada yang berasal dari Kalimantan,” lanjut Khamim, yang juga merupakan keturunan dari Kyai Raden Santri.Area pemakaman Kyai Raden santri sekilas memang tampak seperti area pemakaman pada umumnya, namun dari sisi  aura religinya, terasa lebih tinggi serta ukuran pusara Kyai Raden santri jauh lebih panjang dari makam lainnya, yakni berukuran 6 meter.
Hal itu, menurut KH Khamim  disebabkan karena Nyai Raden Santri, juga dikebumikan berdampingan lurus hingga bentuknya memanjang. Selain itu, adanya peninggalan Kyai Raden Santri berupa Al-Quran kuno bertuliskan tangan berusia ratusan tahun, juga menjadi salah satu bukti keberadaan sejarah nan religious tersebut. Aura kuat religinya, dikatakan Khamim memang pada akhirnya mengundang para peziarah untuk datang, terutama pada malam-malam Kliwon.
“Ada dari Demak, Kudus, Cirebon, Tegal, dan kota-kota lainnya datang kesini,” jelas KH Khamim. Hal itu, secara otomatis membuat ia dan keluarga senantiasa menyediakan fasilitas dan sarana pendukung seperti makanan dan minuman sederhana demi mengusir rasa haus para pengunjung. “Setidaknya 60 sampai 100 an orang yang datang di malam-malam Kliwon dan hal itu mendorong kami untuk melayani mereka sebaik-baiknya,” beber Khamim yang merawat komplek makam bersama anak sulungnya, Jawahirrul Qurtubi Al Mustofa.Perawatan makam, termasuk dalam hal penerangan listrik maupun pembayaran air PDAM, dikatakan Mustof selama ini menggunakan dana pribadinya, bahkan untuk air mandi dan wudhu pun ia juga menyediakan. “Sayang respon dari pengunjung untuk sekedar membantu perawatan makam belum tampak, dan bahkan kini jalanan menuju area makam juga rusak parah, kami berniat untuk memperbaiki namun terkendala dana,” urai Khamim. 
Tak hanya itu saja, tanah di samping makam disebut Khamim juga mulai gembur karena terkikis air hujan yang akhir-akhir ini turun dengan intensitas tinggi. “Kami khawatir makam ini longsor dan jatuh ke jurang kalau tidak ada penanganan lebih lanjut,” jelas Khamim. Ia berharap, pihak-pihak terkait, baik masyarakat umum maupun pemerintah Kabupaten bersedia menunjukkan kepedulian untuk turut merawat area pemakaman dan masjid Karomah Nurul Huda yang berpotensi menjadi destinasi wisata religi tersebut. “Kami sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak agar makom Kyai Raden Santri tidak sampai rusak” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here