Gelar Budaya Babad Dieng Potensial Jadi Agenda Wisata Tahunan

Buku Peradaban Dieng sebagai poros tanah Jawa

WONOSOBOZONE – Acara bedah buku Serat Paraden Dieng dan Babad Tanah Dieng, di Pendopo Suharto-Whitlem, Rabu (14/10), menjadi penanda dimulainya Gelar Budaya Babad Dieng. Selama 5 hari ke depan, beragam acara seni dan budaya akan digelar demi mengungkap sejarah masa lampau dataran tinggi Dieng, yang disinyalir menjadi asal muasal peradaban manusia di tanah Jawa.

“Kedua buku, yang salah satunya merupakan karya mantan kepala Dusun Dieng Kulon di era awal kemerdekaan tersebut bisa menjadi bahan kajian lebih dalam mengenai bagaimana sejarah peradaban manusia di tanah Jawa dimulai”, ungkap Kepala Kantor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wonosobo, Agus Purnomo, ketika ditemui seusai acara bedah buku.

Buku Serat Paraden Dieng yang merupakan hasil karya Suryadi tersebut, dikatakan Agus masih dalam kondisi bagus meski ditulis tangan. Paparan terkait buku Serat Paraden Dieng disampaikan oleh Santoso selaku putra sulung dari Suryadi.

“Pak Suryadi adalah Kepala Dusun Dieng Kulon di era Tahun 1948 hingga 1969, sehingga paham betul bagaimana kondisi Dieng di saat tersebut”, jelas Agus lebih lanjut.
Selain Serat Paraden Dieng, Agus juga mengatakan bahwa buku berjudul Babad Tanah Dieng yang ditulis menggunakan aksara jawa sangat layak untuk diteliti, demi membuka wawasan baru tentang Dataran Tinggi Dieng.

“Perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang hadir pun sepakat untuk melakukan kajian terkait kedua buku tersebut”, terang Agus.
Mengingat strategisnya acara Gelar Budaya Babad Dieng, Agus mengaku akan berupaya mendorong agar even tersebut bisa digelar secara rutin.

“Paling tidak setahun sekali, sehingga bisa menjadi agenda wisata tahunan yang berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Dieng”, harap Agus.
Di Gelar Babad Dieng yang akan berlangsung sampai tanggal 18 Oktober mendatang tersebut, para pengunjung juga bisa menyaksikan beragam sendratari, pameran benda-benda pusaka, hingga diajak untuk menikmati keindahan panorama matahari terbit di Puncak Sikunir dan Puncak Gunung Prau.
Pernyataan Agus tersebut dibenarkan oleh Suparman selaku Ketua Yayasan Taman Syailendra, Suparman.

Menurut Suparman, yayasan Syailendra bersama Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara memang mengupayakan satu even kolosal bertajuk Gelar Budaya Babad Dieng tersebut demi mengangkat Dieng agar lebih dikenal publik, baik dalam negeri maupun mancanegara.

“Dieng ini kaya sejarah, bahkan disinyalir menjadi titik awal peradaban manusia di Tanah Jawa, sehingga sayang sekali apabila masyarakat selama ini hanya berfokus pada keindahan alam semata”, tutur Suparman.
Karena itulah, dalam 5 hari penyelenggaraan, pihaknya mengaku menyajikan aneka bentuk hiburan dan edukasi.

“Selain bedah buku sejarah Dieng, pengunjug bisa menikmati open trip di tiga puncak gunung, yaitu Sikunir, Pakuwojo dan Prau, serta menyaksikan pertunjukan sendratari Pendet Asli Bali, Semar Bangun Kayangan, Tari Kecak, dan Sendratari Ngupadi”, pungkas Suparman.

source : wonosobokab.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here