“Eropa Kecil” itu Bernama Wonosobo

Foto: Ilustrasi
WONOSOBOZONE – Pernahkah merasakan hawa dingin yang begitu menusuk ke dalam tulang. Ketika keluar dari pintu rumah dan menghembuskan nafas, maka akan kau dapati uap air yang mengepul dari mulutmu. Seperti asap rokok para petani di pagi hari. Kau juga akan dapati embun dingin dan angin yang malas berhembus menggoyangkan pepohonan. Dingin.
Suhu dingin identik dengan daerah yang beriklim sedang karena matahari jarang bertengger di sisi langit. Hampir mirip dengan beberapa daerah pegunungan di dataran tinggi Indonesia. Sebagaimana di eropa, matahari kadang jarang muncul ketika mendung dan kabut menghalangi. Hanya yang membedakan suhu udara tidak sampai ekstrim di bawah nol derajat.
Semua orang akan berkomentar sama ketika berbicara tentang pegunungan. Udaranya seperti di eropa. Namun ada beberapa hal akan terlihat berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Ketika mengunjungi Wonosobo. Sebuah kota kecil di tengah provinsi jawa tengah.
Wonosobo terletak di dataran tinggi, sehingga suhu dingin dapat terasa sampai ke permukaan kulit. Setiap pagi di beberapa tempat tertutup kabut putih yang indah. Dua gunung mengapit daerah ini., Sindoro dan Sumbing. Ladang padi, tembakau, jagung, dan sayuran terhampar sejauh mata memandang. Akan kau dapati sosok petani berbalut jaket tebal, bersapih sarung, dan gagah memakai sepatu boat mencangkul ladang siap tanam.
Suasana yang begitu damai ketika fajar menyingsing. Kicauan burung, aliran air kali bergemericik, sampai bunyi ban gerobak pagi buta mulai di dorong ke pasar. Seperti kayuhan ban sepeda di jalanan Groningen.
Setiap pagi jalanan dipadati oleh lalu lalang pengais rejeki fajar. Menaruh barang dagangannya di pinggir selai aspal yang mengeras. Keranjang bambu penuh sayuran, meja kayu bertumpuk daging ayam lunglai tak berdaya, Pedagang sayuran yang meneriaki pembeli dengan orasi rayuan harga dan kualitas bagus.
Pemandangan alam indah tampak pada kawasan Wonosobo, layaknya sudut-sudut pegunungan terpanjang di eropa, Alpen. Hijau pepohonan di satu sisi, biru menjulang gunung-gunung ketika pagi menyingsing, dan hamparan rerumputan basah oleh embun.
Seketika orang bergumam, “ di kawasan pegunungan lain juga seperti Wonosobo. Jangan terlalu mengklaim daerah sendiri”. Sebagai anak manusia yang lahir di tempat ini, tidaklah menafikkan keindahan kampung halaman dan bangga atasnya. Tapi kota ASRI ini berbeda, satu tahun sekali langit daerah yang pernah dipimpin oleh Tumenggung R. Setjonegoro ini benar-benar seperti eropa.
Ketika melihat dan mencari tentang eropa, akan kau dapati wisata balon udara di beberapa negara eropa, swiss atau belanda. Pemandangan ini hampir nampak sama dengan kawasan langit eropa. Bagaimana tidak, sejauh mata memandang banyak balon udara beterbangan dengan aneka warna. Berlomba berkejaran dengan awan putih. Saat kau melintasi langit Wonosobo bertepatan dengan perayaan idul fitri hari pertama sampai ke tujuh.
Bedanya adalah balon di Eropa besar dan berpenumpang, sedangkan balon di Wonosobo tidak sebesar di eropa dan tidak berpenumpang serta terbang menggunakan sumbu api kecil. Pada bagian bawah sumbu api diikat semacam parasut dan petasan. Setelah diterbangkan, maka parasut terjun bebas pada ketinggian tertentu dan suara dentuman petasan akan terdengar di langit.
Pemandangan ini sangat jarang terlihat selain di Wonosobo. Warna-warni dan motif balon dibuat sesuai dengan kreasi warga. Hal semacam ini sudah menjadi tradisi saat perayaan hari besar islam, Idul Fitri. Biasanya sepuluh hari sebelum lebaran warga Rukun Tetangga [RT] berbondong-bondong iuran dan mulai membuat balon dengan kertas maupun plastik. Sudut-sudut mushola dan pekarangan serta lapangan dijadikan area “penerbangan” sejumlah balon menggunakan peralatan sederhana. Tungku kayu untuk membuat asap dan bambu panjang yang ditegakkan berjajar persegi agar balon dapat ditopang ketika hendak diterbangkan. Ketika balon melayang, riuh sorai akan memecah suasana dan para photographer pelbagai kamera siap mendokumentasikan momentum “hiasan langit”.
Pemerintah kabupaten biasanya mengadakan Festival Balon Udara untuk menampung kreasi masyarakat. Hal ini juga untuk menarik mata wisatawan berkunjung ke daerah penghasil kentang dan carica tersebut. Alun-alun wonosobo menjadi saksi bisu terbangnya puluhan balon udara aneka gambar dari berbagai sudut desa. Maka, birunya langit Wonosobo dipadati oleh balon udara.
Sekilas kau akan merasakan bahwa sedang berada di Eropa, udara dingin dengan langit dihiasi balon udara. Oleh karena itu, layaklah Wonosobo disebut sebagai “eropa kecil” di Indonesia. Selamat menikmati. [mengesankan]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here