Eks Buruh Migran Di Kuripan Berharap KIS dan KIP

WONOSOBOZONE – Para mantan buruh migran di Desa Kuripan, Kecamatan Watumalang mulai diberikan pelatihan keterampilan berupa pengolahan pangan lokal dan membatik khas Wonosobo. Kepala Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Wonosobo, Dra Siti Nuryanah menyebut pelatihan yang ditujukan bagi para mantan TKI di Kuripan sebagai bagian dari status Desa tersebut sebagai Desa Migran Produktif (Desmigratif).
Ditemui di Balai Desa setempat, Kamis (1/12), Nuryanah mengakui bahwa program Desmigratif yang merupakan inisiatif dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia itu sangat diperlukan, demi memberdayakan para eks TKI agar lebih kreatif dan produktif melalui usaha secara mandiri. Selain dilatih dengan beragam jenis keterampilan, para mantan TKI, menurut Nur juga akan terus didampingi dalam proses pengemasan dan pemasaran produk mereka. 
“Yang terlibat banyak, mulai dari Kantor Koperasi dan UMKM, Dinas Kesehatan, sampai sektor perbankan dan Telkom,” jelasnya. Jajaran kantor Koperasi dan UKM, disebut Nur bakal membantu upaya pengemasan dan pemasarannya, sementara untuk Dinkes bakal terlibat dalam perijinan industri rumah tangga dan memastikan higienitas produk olahan pangannya. Untuk perbankan dan Telkom, Nur menjelaskan bahwa mereka akan membantu dalam hal permodalan usaha, dan mendorong agar Kuripan bisa menjadi Desa Digital, sehingga pemasaran produk bisa melalui jaringan online.
Program Desmigratif tersebut, diakui para mantan TKI sangat membantu mereka. Suwarti, salah satu mantan TKI asli Kuripan mengungkap rasa terimakasih nya kepada pemerintah karena telah diberikan kesempatan untuk mengakses pelatihan batik dan mengolah potensi pangan. Namun demikian, ia juga berharap agar Pemerintah segera mendistribusikan kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Adanya KIS dan KIP akan membuat kami lebih tenang, karena untuk pendidikan anak dan jaminan kesehatan sudah ditanggung pemerintah,” tegas Suwarti. Perempuan yang menghabiskan 4 tahun bekerja di Hongkong dan Sibgapura itu mengaku sudah tidak ingin lagi ke Luar Negeri, terlebih bila KIP dan KIS sudah di tangannya. “Kami ini jauh – jauh bekerja di luar Negeri kan tidak sekedar demi kesejahteraan keluarga, namun juga demi pendidikan dan masa depan anak,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here