DPRD Kabupaten Kediri Belajar Pertanian di Wonosobo

WONOSOBOZONE – Komisi B DPRD Kabupaten Kediri melakukan kunjungan kerja ke Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Rabu, 16 November, untuk belajar seputar pertanian. Ketua rombongan, Iskak, saat menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan kerja di Ruang Transit Setda mengemukakan, bahwa pihaknya sengaja belajar di Wonosobo, karena memiliki kemiripan dengan Kediri, yang sebagian besar warganya menyandarkan penghasilannya di bidang pertanian, khususnya di sektor pertanian tanaman pangan serta holtikutura.
Meski sebagian besar warganya menjadi petani, namun kontribusi sektor ini terhadap PDRB baru 36,68% dengan 22% diantaranya berasal dari petani padi. Berbeda dengan Wonosobo, yang kontribusinya sekitar 40% terhadap PDRB. Hal inilah yang jadi ketertarikan pihaknya untuk belajar ke Wonosobo, termasuk bagaimana meningkatkan program pertanian serta peningkatan usaha ekonomi kreatif masyarakat.
Terkait hal ini, dijelaskan Asisten Pembangunan Sekda Wonosobo, Amin Suradi, dengan luas lahan persawahan mencapai 15.300 Hektar dan secara demografi, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 380.301 orang, pembangunan pertanian menempati prioritas utama dalam pembangunan ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo tidak lepas dari pertumbuhan sektor pertanian secara umum yang cukup besar. Pada tahun 2015 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Wonosobo lebih dari 40%, yang merupakan sumbangan terbesar dibandingkan sektor-sektor lainnya. 
Sejalan dengan hal tersebut, maka paradigma pembangunan pertanian diarahkan pada pertanian berkelanjutan yang menempatkan pembangunan berorientasi manusia untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, meliputi peningkatan kapasitas dan kualitas SDM, perlindungan usaha pertanian terhadap resiko alam, menjaga kelestarian sumberdaya pertanian yang berkelanjutan, peningkatan akses pasar produk-produk pertanian melalui pemantapan sistem informasi agar lebih mudah diakses oleh masyarakat serta pemantapan  revitalisasi  penyuluhan  melalui  upaya peningkatan koordinasi penyuluhan.
Di sisi lain, Kabupaten Wonosobo juga memiliki potensi pangan lokal yang cukup banyak tersedia dan luar biasa besar, serta dijadikan sebagai salah satu strategi untuk mencapai kemandirian pangan atau ketahanan pangan yang berkelanjutan, melalui upaya peningkatan produksi pangan lokal, penganekaragaman pangan lokal, peningkatan konsumsi pangan lokal, serta melalui pemantauan harga dasar kebutuhan pokok masyarakat. 
Industri dan perdagangan juga menjadi salah satu sektor yang cukup potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Wonosobo, untuk itu kebijakan urusan industri diprioritaskan pada peningkatan daya saing industri kecil menengah dan mewujudkan efisiensi industri unggulan melalui pengembangan klaster industri penghela dan klaster pendukung lainnya serta penguatan kelembagaan klaster industri kecil menengah. 
Terkait ekonomi kreatif, tidak terlepas dari sektor pariwisata. Dengan jumlah wisatawan mencapai 870.000 dan 5.500 di antaranya wisatawan mancanegara, serta telah berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah sebesar 3 Milyar Rupiah pada Tahun 2015, maka pengembangan sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo dilakukan dengan memperhatikan perubahan pola konsumsi dari para wisatawan, yang tidak lagi terfokus hanya ingin menikmati sun, sea and sand, tapi mulai berubah ke jenis wisata kreasi budaya dan pengoptimalan potensi makanan dan minuman khas seperti carica, purwaceng dan kopi.
Untuk itu, strategi yang ditempuh pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam pengembangan pariwisata antara lain mengidentifikasi dan menggali potensi obyek daya tarik wisata, menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, serta perbaikan citra dan revitalisasi produk wisata, sekaligus melalui strategi memaksimalkan sarana-prasarana pendukung wisata. Sedangkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif, pihaknya melakukan koordinasi dengan instansi terkait, seperti Kantor Koperasi dan UMKM, Kantor Perindag, Dinas Pertanian serta Bagian Perekonomian dan Ketahanan Pangan Setda untuk terus melakukan pembinaan kepada pelaku usaha makanan khas, seperti carica dan purwaceng, sehingga bisa meningkatkan mutu dan jumlah produksinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here