Walau Sudah Lansia, Keterampilan Produktif Masih Perlu

WONOSOBIZONE – Diperkirakan sampai tahun 2020 ada sekitar 28,9 juta masyarakat lansia diIndonesia, yang mana 1,6 juta diantaranya masuk kategori lansia terlantar, miskin dan tidak sejahtera, yang beberapa diantaranya masih harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Oleh sebab itu Masyarakat lanjut usia (lansia) masih perlu dibekali dengan berbagai pelatihan produktif ringan, seperti keterampilan meracik jamu atau membuat makanan olahan.

Hal ini dikemukan Purwono Subagyo, selaku ketua pelatihan keterampilan bagi lansia, di aula Bagian Sosial dan Kesra Setda Wonosobo, Kamis, 19 Mei. Untuk itu, keterlibatan berbagai sektor dalam menggelar aneka aktivitas para lansia sangat diperlukan.

Senada, Wakil Ketua Komda Lansia Kabupaten Wonosobo, Soetardjo, mengingatkan, agar masyarakat lansia tetap ikut sumbang saran dalam aktivitas kemasyarakatan, sebab sekecil apapun upaya lansia harus bisa memberi manfaat pada masyarakat. Selain aktif, lansia juga harus bisa menjaga kesehatan dan tetap menjaga hati, dengan melakukan kebaikan pada orang banyak.
Menurutnya, seiring perkembangan jaman dan teknologi Usia Harapan Hidup di Wonosobo meningkat, dari usia 60 an di awal milenium, sekarang telah menjadi 73,6 tahun. Hal ini bisa menjadi motivasi bagi masyarakat lansia Wonosobo, untuk tetap berkiprah, dalam berbagai aktivitas kehidupa, termasuk dengan ikut menanggulangi bahaya narkoba di kalangan kaum muda. Melalui pengalaman yang dimilki, diharapkan lansia bisa menjadi motivator, agar kaum muda Wonosobo tetap dalam pergaulan sehat seperti para seniornya.

Sementara pengusaha jamu Rumpun Padi asal Mirombo, Sudaryati, dalam motivasinya menekankan, umur tua bukan halangan seseorang untuk maju dan meraih hal positif dalam hidup. Ia mencontohkan dirinya, yang meski telah pensiun, namun bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai positif. Tidak hanya nilai ekonomis saja, tapi juga nama baik daerah dan negara. Karena jamu yang diproduksinya, yang kebetulan dibantu juga oleh beberapa tenaga lansia di sekitar tempat tinggalnya, telah berhasil menembus pasar ekspor Amerika, Eropa dan Asia.
Awalnya, sesaat setelah memasuki masa pensiun, ia kebingungan mau melakukan aktivitas apa, sehingga ia mencoba menelpon rekannya, seorang dosen di IPB, dan disarankan untuk memanfaatkan tanaman-tanaman obat yang ada disekitar rumahnya. Dari situlah ia mencoba membuat 1,5 kilogram jahe merah yang diparut secara manual, menjadi jamu instan, hingga sekarang mencapai 1,5 kuintal jahe merah yang diperlukan bagi bahan jamunya setiap harinya dengan alat parut listrik.
Sebagai bentuk motivasi bagi para lansia, Sudaryati mengaku siap membeli tanaman obat yang dimilki para lansia, seperti jahe merah, kunyit, kunci, maupun kencur, dengan harga yang pantas, untuk memenuhi target produksi jamunya. Ia berharap, Sudaryati yang di usia produktif bukan apa-apa, namun berhasil menghasilkan sesuatu di usia senja, bisa menjadi motivasi puluhan lansia dari 15 kecamatan yang mengikuti pelatihan keterampilan, serta masyarakat lansia Wonosobo pada umumnya. Dan pintu rumahnya terbuka, bagi para lansia yang ingin belajar langsung atau ikut membantu membuat jamu instan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here