Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat Belajar Penanganan Masalah Sosial di Wonosobo

WONOSOBOZONE – Bertempat di Ruang Rapat Mangoenkoesoemo Setda Wonosobo, Asisten Pembangunan Setda Wonosobo, Amin Suradi, didampingi Kepala Bagian Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Setda Wonosobo, Eko Suryantoro, menerima puluhan peserta kunjungan kerja dari Balai Pengembangan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Kamis, 25 Agustus.
Ketua rombongan dari Jabar, dr. Endang Hermawan, MM yang juga Kepala  Balai Pengembangan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, menyampaikan tujuan kunker tersebut adalah untuk mengetahui bagaimana cara penanganan masalah sosial yang ada di Wonosobo, untuk selanjutnya bisa dikembangkan di Jabar, karena menurutnya di Jabar masih perlu pengembangan dan peningkatan baik dari para pekerja sosialnya maupun strategi penanganannya.
Dalam paparannya, Amin Suradi menyampaikan seputar Kabupaten Wonosobo terkait dengan kegiatan dan penanganan masalah sosial yang ada. Amin menyampaikan beberapa program dan kegiatan yang telah dan akan dilakukan terkait dengan penanganan masalah sosial, yang menurutnya ada 7 kriteria dalam PMKS yakni kemiskinan, keterlantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterpencilan, kekerasan/eksploitasi, serta kebencanaan, sedangkan macamnya  ada 26  jenis PMKS.
Penanganan kemiskinan yang dilakukan melalui KUBE (kelompok usaha bersama) diantaranya untuk sasaran fakir miskin, keluarga rawan sosial ekonomi, wanita rawan sosial ekonomi, program keluarga harapan, rumah tidak layak huni, penanganan keterlantaran dengan melakukan pengiriman, untuk anak putus sekolah, mengikuti bimbingan sosial dan keterampilan ke balai rehabilitasi sosial dan bantuan UEP, kemudian juga dilakukan pemulangan ke daerah asal.
Untuk permasalahan kecacatan yang produktif, ditangani dengan melakukan bimbingan sosial, keterampilan dan bantuan UEP, bantuan sesuai yang dibutuhkan seperti alat bantu dengar, kaki atau tangan palsu, kruk. Sedangkan untuk kecacatan non produktif dilakukan dengan pemberian bantuan dana untuk memenuhi kebutuhan dasar atau permakanan.
Permasalahan sosial ketunaan, seperti gelandangan atau pengemis dan lainnya, dilakukan operasi bersama instansi terkait dan dikirimkan ke Barehsos Prov. Jateng yang selanjutnya diassesment dan  akan direferal ke BAREHRES terkait, dengan sesuai kebutuhaan kelayakan atau penerima manfaat. Untuk Wanita Tuna Susila dilakukan pembinaan atau pemeriksaan rutin dan pemberian bantuan UEP, sedang untuk tuna karya dan warga binaan LP, penangananya dengan menjalin kerjasama dengan lembaga terkait, seperti dengan memberikan bimbingan keterampilan seperti pijit, setir mobil sampai mendapatkan SIM.
Selanjutnya untuk permalsahan sosial keterpencilan atau KAT, dilakukan dengan memberikan bimbingan sosial dan pemberian bantuan UEP. Sedang untuk masalah kekerasan atau eksploitasi, seperti korban kekerasan bekerjasama dengan UPIPA dan instansi terkait lainnya, memberikan bimbingan sosial, hukum dan bantuan UEP, sementara untuk ABH, bekerjasama dengan BAREHSOS PSMP Antasena Magelang dilakukan dengan memberikan bimbingan sosial, keterampilan dan UEP.
Amin juga memaparkan, untuk masalah kebencanaan, terutama di daerah rawan bencana, dilakukan penyuluhan sosial kesiapsiagaan bencana, korban bencana diberikan bantuan kebutuhan pokok dasar dan pengiriman bantuan tenaga  sosial TAGANA. Sedang untuk bencana sosial, dilakukan kegiatan bantuan keserasian sosial, berupa sarana dan prasarana lingkungan, bekerjasama dengan Kementerian Sosial RI, yang dikerjakan secara swakelola, di lokasi masyarakat yang berkonflik.
Sementara Kabag Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Setda Wonosobo, Eko Suryantoro, menyampaikan, belum lama ini pihaknya menggelar acara Wonosobo  berbagi kursi roda, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pilar-pilar sosial untuk menghimbau dan menghimpun potensi masyarakat Wonosobo, baik yang tinggal di dalam maupun diluar Wonosobo, untuk mengumpulkan barang atau uang, yang selanjutnya dibagikan atau diserahkan kepada Penyandang Cacat di Kabupaten Wonosobo, yang diserahkan kepada para disabilitas, pada puncak peringatan HUT RI, pada tanggal 17 agustus 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here