Dina Winatuningsih, Pesilat Cilik Asal Wonokromo Mojotengah

Dina bersama Camat dan Paguyuban Kades Mojotengah memamerkan trophy dan penghargaannya
WONOSOBOZONE – Kisah hidup Dina
Winatuningsih (11) sanggup membuat setiap pendengarnya trenyuh. Gadis cilik
yang memiliki tanggal lahir sama dengan RA Kartini itu sudah harus hidup tanpa
belaian kasih sayang seorang ibu, sejak ia masih berusia 3 tahun. Sang ibu
meninggalkannya tanpa sepatah pesan pun saat ia masih benar-benar membutuhkan
kehadirannya, dan kini tak diketahui rimbanya. Namun hal itu ternyata justru
memotivasinya untuk berbuat sesuatu, demi memberi kebanggaan bagi Khomsatun,
ibu  kandungnya yang 8 tahun lalu telah
meninggalkan ia dan ayahnya. Kini, apa yang dicita-citakannya mulai mendapat
secercah titik terang. Hasil kerja keras berlatih pencak silat, membuahkan
medali emas dan trophy bergengsi dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik
Indonesia. Dalam kejuaraan pencak silat tingkat Nasional, bertajuk Jakarta
Championsip 4 2015 belum lama ini, anak tunggal Muntowi itu berhasil merebut
juara pertama kategori tanding, kelas 38-40 kilogram putri.
Apresiasi dan simpati
atas capaian membanggakan yang diraih Dina itu pun kini mulai mengalir. Ketika
ditemui di kantor Camat Mojotengah, Senin (2/11), Dina tampak semringah. Ia
bersama ayah dan guru pencak silatnya hadir di Kantor Kecamatan atas undangan
dari Camat dan Paguyuban Kepala Desa se-Mojotengah. Rupanya Kristianto, selaku
Camat, dan Kholiq Hidayat, Ketua Paguyuban Kades Mojotengah, tergerak untuk memberikan
sebentuk penghargaan pada Dina. “Jujur, penghargaan yang kami berikan tidaklah
seberapa dibandingkan dengan prestasi Dina, namun demikian kita berupaya untuk
menunjukkan bahwa banyak pihak yang bersimpati padanya, serta mendorongnya
untuk tetap semangat mengejar prestasi yang lebih tinggi lagi” tutur
Kristianto. Penghargaan berupa sejumlah uang tersebut, dikatakan Kris juga demi
memotivasi agar Dina tak lekas berpuas diri atas prestasi yang baru didapatnya.
“Semoga ke depan semakin bersemangat berlatih, meski sarana pendukung di
sekolah, maupun di desa masih sangat terbatas,” harap Ketua paguyuban Kades,
Kholiq Hidayat.
Senada, Kepala Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Dikbudpora Mojotengah, Subarjo pun mengaku sangat bangga
atas hasil yang diraih siswi kelas 6 SD Negeri Wonokromo tersebut. Meski
berasal dari Wonokromo, yang notabene merupakan desa pelosok, Dina disebut
Subarjo pantang menyerah. “Kini jalan menuju masa depannya terbuka lebar,
sehingga Dina bisa mulai menatap cita-citanya lebih terang,” jelas Subarjo. Ia
pun berharap, Muntowi yang kini berperan sebagai orang tua tunggal bagi Dina,
selalu mendorong putrinya agar mengejar impian, dan melanjutkan pendidikan
setinggi-tingginya. “Banyak sekolah yang telah bersedia memberikan beasiswa
pendidikan mengingat prestasinya yang telah mengharumkan nama Wonosobo di
kancah pencak silat nasional,” jelas Subarjo. Andai prestasi tersebut bisa
ditingkatkannya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Subarjo meyakini untuk
melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi pun, orang tua Dina tak lagi
harus memusingkan biayanya.
Dorongan dan
optimisme banyak pihak atas masa depan penyuka Badminton tersebut diamini pula
oleh guru sekaligus pelatihnya, Festi Sessiyanti. “Dina ini, selain memiliki
semangat luar biasa dalam menekuni pencak silat, juga merupakan siswa
berprestasi di sekolah,” terang Festi, yang 4 tahun terakhir melatih Dina di
perguruan silat Tapak Suci. “Satu hal yang membuat saya juga sangat
bersemangat, selain selalu berada di rangking 5 besar di kelas, Dina memiliki
cita-cita yang sungguh mulia, yaitu tetap ingin memberikan kebanggaan bagi
ibunda nya, meski ia telah ditinggalkan sejak masih berusia 3 tahun,” beber
Festi. Ke depan, Festi mengaku siap untuk terus mendampingi Dina demi
menggenjot prestasinya, meski kelak telah berada di bangku SMP. “Banyak SMP
yang telah bersiap untuk menerima Dina sebagai anak didik, sekaligus memberikan
beasiswa hingga lulus,” pungkas Festi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here