Deteksi Dini Perlu Dilakukan Untuk Cegah Penularan Virus HIV/AIDS

WONOSOBOZONE – Deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah penularan virus HAIV/AIDS khususnya yang berkaitan dengan adiksi, hal ini disampaikan dr.Lula Kamal, M.Sc., yang tampil menjadi pembicara dalam seminar nasional kesehatan World AIDS Day, Kamis, 1 Desember di Gedung Sasana Adipura Kencana.
Menurut Lula Kamal, yang juga terkenal sebagai artis ibukota, di hadapan ratusan peserta yang sebagian besar perawat ini, deteksi dini bisa dilakukan dengan melihat perubahan perilaku baik positif dan negatif serta pemeriksaan yang berhubungan dengan narkoba, seperti bungkus permen karet, korek api dan bong atau botol kaca serta plastik.
Pengaruh Zat Adiksi terhadap penyebaran virus HIV/AIDS sendiri sangat besar, yang mana gejalanya adalah keinginan atau keharusan menggunakan zat ini, seperti narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya, seperti rokok dan segala macam inhalansia. Gejala lainnya adalah kesulitan mengontrol pemakaian zat, gejala putus zat (withdrawal), toleransi dan kehidupan pribadi terbengkelai, serta tetap menggunakan walaupun tahu resikonya.
Pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengurai ketergantungan terhadap zat adiksi ini adalah detoksifikasi, rehabilitasi, terapi substitusi serta terapi lainnya seperti terapi agama, akupuntur, aroma terapi atau homeophaty, yang mana hal ini untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS, khususnya dari zat adiksi Opiat, karena pemakaian zat ini menggunakan jarum suntik, yang tidak hanya mempermudah penularan virus melalui darah juga bisa merusak susunan saraf pusat, hepatitis B atau hepatitis C.
Senada, Menurut Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, mengemukakan, bahwa pengetahuan masyarakat akan penyebaran virus HIV dan AIDS sangat penting, diantaranya pengetahuan bahwa HIV tidak dapat menular dengan mudah, hanya melalui 3 jalur utama yakni cairan darah, cairan sperma dan vagina serta plasenta atau ASI. Adapun prinsi penularannya adalah exit atau terdapat virus yang keluar, survival atau bertahan hidup, sufficient atau jumlah yang cukup serta enter atau terdapat pintu masuk.
Sedangkan dosen Fakultas Kedokteran UGM dan dokter RSUP Dr.Sardjito, dr.Muhammad Nurhadi Rahman,SpOG menyampaikan bahwa pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi antara lain tidak melakukan hubungan seks bagi orang yang belum menikah, bersikap saling setia hanya pada satu pasangan seks atau tidak berganti-ganti pasangan, mencegah penularan HIV yang terjadi melalui hubungan seksual dengan menggunaka kondom khususnya bila salah satu dari pasangan tersebut diketahui terinfeksi HIV, dilarang menggunakan narkoba yang bisa menjadi alur transmisi HIV dan memberantas PHS.
Ketua MUI Wonosobo, Muchotob Hamzah, menekankan pentingnya pendekatan spiritual dalam pencegahan HIV AIDS. Menurutnya setiap perintah dan larangan agama memiliki hikmah tersendiri. Hal ini sebagaimana ditemukan dalam kajian psikologi, bahwa setiap kelahiran manusia selalu membawa kecemasan, baik kecemasan akan kematian, kecemasan spiritual dan kecemasan moral. Sebagai contoh, Al Quran melarang berzina sehingga berkhalwat atau bersendiri seorang laki-laki dan perempuan bukan muhrim dalam satu kamar atau keadaan yang memungkinkan mereka dapat berbuat zina, dan di hadist dinyatakan bahwa mereka telah ditemani setan.
Sementara Staf Ahli Bupati Bidang Fisik Prasarana Kabupaten Wonosobo, Sigit Sukarsana menyampaikan, di Kabupaten Wonosobo jumlah kasus HIV dan AIDS mencapai tiitk rawan, dimana kasus hingga Bulan April 2016 total terdata 332 Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) dan 90 ODHA diantaranya meninggal dunia.
Selaras dengan itu, pihaknya sangat mendukung pelaksanaan Seminar Nasional World AIDS Day yang juga digelar dalam rangka Hari Jadi Ke-26 FIKES-UNSIQ Jawa Tengah di Kabupaten Wonosobo. Ia berharap kegiatan sejenis akan semakin menguatkan kepedulian semua pihak, khususnya untuk menanggulangi HIV dan AIDS, sekaligus menguatkan komitmen untuk mengendalikan, menekan serta menghentikan epidemik HIV dan AIDS yang cenderung meningkat setiap tahunnya di Kabupaten Wonosobo, dengan mengedepankan kesehatan serta kesejahteraan secara keseluruhan.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi jawaban bagi masyarakat, yang sangat berharap banyak kepada UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo untuk terus berperan memajukan pendidikan, mencetak generasi yang memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan teknologi serta memiliki kematangan secara professional. Selain harapan kepada FIKES-UNSIQ Jawa Tengah di Kabupaten Wonosobo ke depan, akan berperan aktif dan memberikan kontribusi lebih bagi pembangunan kesehatan, serta terobosanterobosan yang sistematis dan ilmiah sebagai solusi, khususnya dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Wonosobo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here