Calo TKI Tipu Pencaker Dengan Stempel Abal-Abal

WONOSOBOZONE – Praktek perdagangan manusia dengan kedok rekrutmen tenaga kerja, ternyata masih marak terjadi di Kabupaten Wonosobo. Mereka bahkan dengan berani memalsukan surat-surat beserta stempel Kades maupun perangkat pemerintahan desa, demi memuluskan tujuannya mengelabui para pencari kerja (Pencaker). Hal itu diungkap Mulyadi, Direktur Social Analysis and Research Institute (SARI) Solo seusai nonton bareng film Rindu Utami, di ruang audio visual, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah, Rabu (7/12).
Pria yang akrab dengan sapaan Cak Mul itu juga menjelaskan, bahwa upaya masif para trafficker, sebutan bagi para pelaku perdagangan manusia lebih banyak menyasar desa-desa di pelosok. “Belum lama ini saya ke Desa Rogojati, Kecamatan Sukoharjo dan menerima laporan dari salah satu pencaker yang nyaris menjadi korban human trafficking,” terang Cak Mul. Para korban, dikatakan Cak Mul bahkan tidak paham kalau surat-surat yang menjadi syarat pemberangkatan ternyata sudah diselesaikan oleh si calo. “Mereka baru sadar telah ditipu ketika pihak perangkat desa mengakui, tidak pernah menerbitkan surat keterangan yang menjadi salah satu syarat keberangkatan,” lanjutnya.
Tak hanya surat dan stempel palsu, para calo itu disebut Mulyadi juga nekad memalsukan tanda tangan dengan mesin scanner, sehingga hampir tidak bisa dibedakan. “Bahkan tanda tangan suami pencaker pun dipalsukan,” tandasnya. Hal itu menurut Mulyadi wajib diketahui dan dipahami warga masyarakat, agar tidak ada lagi korban para pelaku human trafficking. “Sosialisasi tak kalah masif harus juga dilakukan pihak-pihak yang memiliki kewenangan, seperti Kantor Tenaga Kerja agar masyarakat makin waspada,” beber Cak Mul. Media film, seperti yang digagas Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), menurut Mulyadi juga cukup efektif untuk menggugah kesadaran masyarakat.
Harapan agar praktek perdagangan manusia bisa dihilangkan dari Wonosobo, juga disampaikan Asisten Pemerintah Setda, M Aziz Wijaya. Menurut Aziz, upaya Pemkab untuk menanggulangi human trafficking juga tak pernah surut. Pihaknya juga mengaku sangat mendukung adanya inisiatif SBMI yang melalui film Rindu Utami, berusaha menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan dini terhadap praktik perdagangan manusia. “Film pendek ini sangat menggugah dan selayaknya diputar juga di desa-desa yang terkenal sebagai kantong buruh migran, agar tidak sampai jatuh korban,” tegas Aziz. Pemkab, dikatakan Aziz juga terus mendorong adanya pelatihan-pelatihan keterampilan bagi para mantan buruh migran agar mereka tak lagi kembali ke luar Negeri untuk bekerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here