Bundengan Wonosobo Pentas di Australia

WONOSOBOZONE – Komposer muda, musisi, dan etnomusikolog Luqmanul Chakim dari Wonosobo, bersama timnya kembali mampu membius publik Australia dengan menampilkan paduan musik tradisional Indonesia yang lain dari biasanya, di Melbourne Recital Center, Australia, Jumat (14/12/2018).

.

Pada konser ini ia memainkan 3 alat musik tradisional Indonesia, yaitu bundengan, gule gending, dan rantok. Kemudian dipadukan dengan piano dari Bianca Gannon yang juga merupakan artistic director, vokal Peni Candra Rini, dan karya visual yang dikemas dalam The Sound of Shadows: Sugar Coated.

.

Acara ini juga merupakan bagian dari Mapping Melbourne 2018 yang didukung oleh Creative Victoria, dan Helen Soemardjo Arts Fund.

.

Konser musik pada malam itu diawali dengan mantra Jawa yang dilantunkan oleh Peni dengan gangsa yang dimainkan menggunakan bowl biola oleh Bianca. Kemudian lagu Sulasih dan Sontoloyo juga dilantunkan bersama bundengan berkolaborasi dengan piano ala post-minimalist.

.

Karya ini ditampilkan dengan sangat menarik membawa penonton ke dalam suasana desa yang erat hubungannya dengan proses produksi makanan. Seperti dalam kehidupan sehari-hari bundengan dengan bebeknya, gule gending dengan rambut nenek / gulali, dan rantok sebagai alat penumbuk padi di Lombok.

.

Hal ini tentunya memberikan pengalaman baru bagi penonton di Australia. Seperti yang dikatakan oleh Sneha Varma lewat akun facebooknya “It was absolutely beautiful”, dan juga Celeste Josette “Thank you, really loved Sugar Coated, and am raving to all!!”.

.

Acara ini sangat menarik perhatian publik Australia, terbukti tiket yang disediakan oleh Multicultural Art Victoria, sudah habis dipesan masyarakat Melbourne dan sekitarnya sejak beberapa hari sebelum acara.

.

Penonton yang berjumlah 113 orang menikmati dengan seksama bunyi dan visual yang dihidangkan di atas salah satu venue bergengsi di Melbourne, Australia.

BACA JUGA:  CISC Wonosobo Juara Kedu-Bara Cup 2018

.

Luqmanul tak hanya dikenal sebagai musisi, peneliti musik tradisional, dan komposer tetapi juga dikenal sebagai aktivis muda bundengan. Bulan lalu (26/11/2018) ia dipercaya menjadi ketua penyelenggara konser bundengan bertajuk “What Is Bundengan (WIB) 1.0” melibatkan mayoritas anak-anak muda Wonosobo yang dikemas secara milenial.

.

Ia juga kerap membuat karya-karya eksperimen menggunakan bundengan dan dikolaborasikan dengan alat musik lainnya.

.

Luqmanul seolah ingin menunjukkan bahwa alat musik tradisional ini juga dapat disajikan dalam komposisi kontemporer atau dalam kemasan yang tidak konvensional di atas panggung. . Ia dan tim The Sound of Shadows terlihat piawai memainkan alat-alat musik yang bukan hanya dari bentuk visualnya saja yang unik, namun juga keindahan bunyi yang dihasilkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.