Budaya K3 Tingkatkan Kualitas SDM dan Produktivitas Tenaga Kerja

           
WONOSOBOZONE – Budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berjalan baik, akan berdampak positif pada peningkatan kualitas sumber daya manusia serta produktivitas tenaga kerja, sekaligus berkorelasi posistif pada pengurangan angka kemiskinan, dalam rangka mewujudkan Wonosoboyang lebih maju dan sejahtera. hal ini diungkapkan Bupati Wonosobo, Ir. Satiyo Hidayat, saat menjadi inspektur dalam upacara hari keselamatan dan kesehatan kerja nasional tahun 2016 tingkat Kabupaten Wonosobo, Kamis, 28/01/16 di halaman Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Wonosobo.
Dihadapan ratusan peserta upacara yang berasal beberapa perusahaan, Satriyo menyampaikan apabila K3 terlaksana dengan baik, maka biaya-biaya yang tidak perlu akibat kasus-kasus kerja dapat dihindari, sehingga dapat tercapai suasana kerja yang aman, nyaman, sehat serta tercipta produktivitas yang akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, tidak hanya perusahaan tapi daerah dan bangsa secara umum. Bahkan kalau diperhatikan data dari BPJS Ketenagakerjaan akhir tahun kemarin telah terjadi kecelakaan kerja sejumlah 105.182 kasus dengan korban meninggal dunia 2.375 orang. Salah satu penyebab kejadian ini adalah pelaksanaan dan pengawasan K3 sekaligus perilaku masyarakat industri pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, belum optimal. Kejadian tersebut diatas harus kita jadikan pelajaran yang sangat berharga untuk mencegah tidak terulangnya kejadian yang sama. Untuk itu, peningkatan upaya-upaya K3 masih terus dibutuhkan dalam mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Oleh karena itu, melalui terciptanya budaya K3, perusahaan akan siap untuk menghadapi serta mengatasi segala kemungkinan dan tantangan perdagangan bebas, terlebih dengan diberlakukannya MEA akhir tahun 2015 kemarin.
Dengan pemberlakuan MEA akan terjadi peningkatan mobilisasi tenaga kerja kompeten, baik TKI yang akan bekerja di negara-negara ASEAN maupun tenaga kerja yang berasal dari negara-negara ASEAN yang akan bekerja di Indonesia dalam Frame Mutual Recognition Arrangement (MRA). Masuknya tenaga kerja dari negara lain yang ingin bekerja di Indonesia, tentu akan mengurangi peluang kerja bagi TKI dalam negeri. Oleh karenanya, peran lembaga pelatihan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi pekerja lokal. Jurus yang penting dalam menghadapi MEA adalah percepatan peningkatan kompetensi tenaga kerja, percepatan sertifikasi kompetensi, dan pengendalian tenaga kerja asing. Kesiapan SDM angkatan kerja sangat penting untuk dapat menjadi pemenang dalam kompetisi MEA. Untuk itu kesiapan dalam menghadapi MEA harus dilakukan tidak hanya oleh sektor ketenagakerjaan, namun semua sektor terkait dan lintas instansi/lembaga di seluruh Indonesia harus dilibatkan.
Dalam upacara yang sebagian besar petugasnya dari perwakilan perusahaan, Satriyo menghimbau serta mengajak dan mendorong agar semua pimpinan perusahaan, pekerja, serta masyarakat untuk melakukan upaya-upaya kongkrit terhadap pelaksanan K3 di lingkunganya masing-masing, sehingga budaya K3 bisa benar-benar terwujud di setiap tempat kerja di seluruh perusahaan di Kabupaten Wonosobo, dan tujuan jangka panjang di bidang K3 untuk mencapai kemandirian masyarakat Indonesia Berbudaya K3 tahun 2020 akan tercapai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here