Bu Utiyah Dari Wonosobo Menjadi Kandidat Pahlawan 2016 Di 10th Anniversary Kick Andy

WONOSOBOZONE – Merawat orang dengan gangguan kejiwaan bukanlah pekerjaan mudah. Namun, Utiyah (46) warga Dusun Juru Tengah, Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo, Jawa Tengah justru mampu melakukannya. Lebih istimewa lagi,  Utiyah merawat orang gila tanpa digaji, dan bagi penderita yang tak mampu bahkan tak dipungut biaya. Keikhlasan dan semangat ingin membantu kesembuhan orang-orang yang “terpinggirkan”, membuat istri Hamid Mustaqim ini rela menjadikan rumah pribadinya sebagai penampungan bagi orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Utiyah melakukan kegiatan ini sejak tahun 2003. Panti rehabiltasi di rumah Utiyah ini diberi nama Dzikrul Ghoflin. Kini di panti Dzikrul Ghofilin dihuni sekitar 100 pasien yang datang bukan hanya dari sekitar Wonosobo saja, namun dari berbagai daerah di Jawa Tengah, bahkan ada juga yang dari luar pulau Jawa. Untuk membiayai pantinya, Utiyah menggunakan gajinya sebagai guru agama di SD Erorejo, selain dari sejumlah donatur  tidak tetap.   

Kegiatan Utiyah merawat orang gila muncul dari hati, karena dorongan untuk membantu sesama. Utiyah dan tiga saudaranya juga pernah mengalami gangguan kejiwaan. Meski tak lama dan akhirnya bisa sembuh, Utiyah tak mampu melupakan periode buruk tersebut, dan tergugah untuk mendalami apa sebenarnya penyakit yang lebih dikenal dengan “gila” tersebut. Dari upaya mempelajari penyakit kejiwaan itulah, perempuan yang juga pernah merasakan pahitnya kehidupan sebagai TKW di Arab Saudi tersebut kemudian meneguhkan hati untuk berbuat lebih. Saudara-saudaranya yang dulu pernah mengalami gangguan kejiwaan turut dalam memberikan terapi pada pasien-pasien panti rehabilitasi Dzikrul Ghofilin.

Metode yang digunakan Utiyah untuk membantu kesembuhan pasien pun cukup unik. Orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang datang, diberikan perawatan berupa terapi pijat dan diajak berdzikir ketika kondisi sudah lebih tenang. Bagi pasien yang belum dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, Utiyah dan adiknya, Sangidun yang memandikannya. Dengan menjaga kebersihan ini, diharapkan pasien dapat lekas sembuh. Ketika malam tiba, Utiyah dan Sangidun menjaga pasien, karena tidak jarang mereka berteriak-teriak.   
Terkait biaya, Utiyah mengaku tak mematok tarif khusus. Bagi pasien yang benar-benar tak mampu, Utiyah bahkan tak mau membebaninya dengan biaya perawatan. Namun, untuk pasien yang datang dari keluarga berada, Utiyah mempersilahkan untuk membantu biaya perawatan semampunya.
Dalam merawat dan menerapi orang dengan gangguan kejiwaan ini, Utiyah juga melibatkan anggota keluarga pasien. Mereka diberi tahu cara menghadapi orang yang mengalami gangguan kejiwaan, sehingga ketika pasien telah sembuh dan dapat pulang keluarga tidak memperlakukannya secara salah. Sementara pasien yang telah dinyatakan sembuh dan tidak mau pulang atau tidak diterima keluarganya lagi, Utiyah memberi sejumlah kegiatan pada mereka dengan membantu pekerjaan di panti.      
Seiring berjalannya waktu, rumah penampungan yang didirikannya dari bekas sebuah kandang ayam tersebut, kini bahkan telah dilengkapi dengan sebuah Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ). Di setiap sore, TPQ itu  selalu ramai dengan anak-anak kampung yang belajar mengaji. Setelah usai mengaji, anak-anak itupun berbaur dengan pasien, dan bahkan sholat Maghrib berjamaah dengan mereka. Harapannya, dengan lingkungan religius itu, kondisi para pasien akan lebih mudah disembuhkan.
Silakan Dukung Utiyah Dengan klik APPLY VOTING

Video Profile Utiyah, Kandidat Heroes 2016:

Baca Juga:
Anggota Dewan Kunjungi Rumah Singgah Psikotis Erorejo Wadaslintang
– Salah Satu Tindakan Keren Wonosobo Rock Community
– Sahabat Jiwa, Menyembuhkan dengan Penuh Keikhlasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here