Bob Maulana Singadikrama : Tentang Seni, Idealisme, dan Panggilan Hidup

WONOSOBOZONE“Hampir 60 juta atau 100 juta masyarakat Indonesia hidup di lingkungan pertanian (agrokompleks). Akan tetapi apakah saat ini banyak mahasiswa pertanian yang menjadi petani? Sebagian besar justru menjadi pegawai bank. Bagaimana dengan mahasiswa jurusan periklanan, komunikasi, dan manajemen? Hanya sebagian kecil yang masuk ke dunia pertanian. Itupun akan memilih yang skalanya sudah industri, dan kemungkinan besar perusahaan makanan asing. Sadarkah kalian jika terjadi ketidakseimbangan antara masyarakat pertanian yang harus “disentuh” dengan mahasiswa yang mau “menyentuh” mereka?”Bob Maulana Singadikrama
Selamat berkenalan dengan tokoh muda Wonosobo kali ini, yaitu Bob Maulana Singadikrama. Ia akrab disapa dengan panggilan Bob. Awalnya, Bob memiliki mimpi besar sebagai game developer, yang ketika itu memang sedang marak berkembang. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, mas Bob menyadari ada panggilan yang lebih besar untuk membuat perubahan untuk Indonesia. Bagaimana ceritanya? Silahkan simak kisah berikut.
Sejak kecil, Bob telah bermimpi menjadi seorang game developer. Mimpi tersebut membawanya kemudian untuk bersekolah ke SMAN 3 Yogyakarta setelah lulus dari SMP N 1 Wonosobo. SMAN 3 Yogyakarta ini sendiri terkenal dengan pertukaran pelajar ke luar negerinya. Akan tetapi, ketika SMA, Bob semakin menyadari bahwa bahasa pemrograman adalah sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Akhirnya, Bob melihat bahwa tujuan utama yang ia miliki adalah ingin mampu bicara lewat orang banyak mengenai kebaikan. Pikiran realistisnya membawanya kembali ke tujuan utama dalam hidupnya tersebut. Pentas ekstrakulikuler di panggung-panggung besar dan monolog-monolog yang dilakukannya ketika itu akhirnya menjadi sarana untuk menyampaikan tujuan hidupnya ke orang banyak.
Menyadari ketertarikannya, selepas lulus SMA Bob melanjutkan kuliah perfilman di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tak banyak orang tua yang mendukung anak-anak mereka untuk mendalami jurusan seni. Namun, Bob beruntung karena lahir di lingkungan keluarga yang berjiwa seni. Salah seorang adiknya juga sekarang tengah menimba ilmu di jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia. Ayahnya sendiri dulu ingin masuk ke jurusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia (dulu bernama ASRI), namun kondisi saat itu tidak memungkinkan. Putra Bapak Syafrudin AS & Ibu Lili Harjanti ini berpendapat, memang susah meyakinkan “lentera jiwa” kita pada orang tua, caranya memang harus dengan sungguh-sungguh berkorban dan menunjukkan bahwa kita ingin kuliah jurusan yang kita inginkan. Serta tidak kalah penting adalah, bertanggung jawab atas pilihan yang telah kita ambil.
Berbekal pengetahuan dari bangku perkuliahan dan keinginan untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada orang banyak, akhirnya mas Bob memberanikan diri  mendirikan Lotus Cinema yang bergerak di bidang videografi pada tahun 2010 dan Merah Pro yang bergerak di bidang digital campaign dan digital marketing pada 2011. Kecemerlangannya dalam bidang  ini ditunjukkan dengan berhasil memenangkan lomba Video Kreatif Rakyat Piala Presiden RI pada tahun 2013 dengan karya yang berjudul “Bangga Menjadi Indonesia” yang bercerita tentang keramahan masyarakat Yogyakarta. Bob, yang berperan menjadi produser dalam pembuatan video kreatif tersebut, menerima penghargaan secara langsung dari Presiden SBY saat itu. Ia juga pernah memenangkan beberapa festival lain sebelumnya dengan film-film berikut: Cheng-cheng po (2007-2008), Bermula dari A (2011), Say Hello To Yellow (2011). Perannya di situ beragam dari mulai menjadi produser film hingga art director.
Meskipun terbukti memiliki minat dan bakat yang cemerlang di bidang perfilman, Bob justru kemudian beralih ke bidang pertanian, sebagai panggilan hidupnya. Ia bekerja sebagai Direktur Komunikasi di sebuah perusahaan riset pertanian di Yogyakarta. Panggilan untuk menyebarkan kebaikan ini membuat Bob akhirnya memilih mendalami bidang pertanian. Karena baginya, perusahaan di mana ia bergabung sekarang bisa membuat bangsa ini menjadi lebih baik, tentunya dengan memajukan pertanian. Bob sendiri menyadari bahwa bagi kaum muda, mungkin bekerja di bidang pertanian kalah “seksi” dibandingkan dengan bekerja di bidang seperti perminyakan dan industri lainnya. Hal ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi Bob untuk membantu perusahaannya pada khususnya dan bidang pertanian pada umumnya untuk memiliki citra yang keren dan muda. Agar kelak dapat menarik lebih banyak kaum muda masuk ke dalamnya. Harapannya, dengan banyaknya potensi dari kaum muda ini, secara perlahan, pertanian di Indonesia akan semakin terbantu.
Bob mengakui, tantangan yang ia hadapi dalam mewujudkan mimpi untuk bermanfaat bagi orang banyak, khususnya di bidang pertanian ini adalah ia berlatar belakang IPS, anak rumahan, hobinya membaca dan main game, jauh sekali dari bidang pertanian. Itu sebabnya ia sekarang sedang banyak membaca dan belajar ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertanian, energi, dan lingkungan. Dengan semangat ini membuatnya terkadang berada di kantor dari jam 8 pagi hingga 11 malam (waktu kantor aslinya hanya 8 jam saja). Karena ia merasa bahwa patokan kerjanya bukan jam kantor namun percepatan perusahannya, juga percepatan dunia pertanian lewat ilmu yang bisa ia pahami. Mimpinya di bidang ini membuatnya harus bekerja, bekerja, dan bekerja.
Sedikit pesan Mas Bob bagi kita, waktu kita hanya terbatas 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, namun seringkali kita menghabiskannya untuk hal-hal yang kurang penting, sekedar nongkrong atau tidur berlama-lama. Betapa banyak waktu yang telah kita habiskan tidak produktif dan tidak konstruktif, padahal umur kita-pun terbatas. Oleh karenanya mari kawan-kawan muda efektifkan waktu, buatlah jadwal hidup. Semangat kawan muda! (Agnes)
*korespondensi dengan Bob Maulana Singadikrama dapat dilakukan melalui akun twitter @bobsingadikrama atau add akun Facebook Bob Maulana Singadikrama. Untuk karya-karyanya dapat dinikmati di kanal Youtube, beberapa di antaranya: Cheng-cheng po (2007-2008), Bermula dari A (2011), Say Hello To Yellow (2011), Bangga Menjadi Indonesia (2013).


Source: wonosobomuda.com

lintasme.init(‘right’); // options : left, top, bottom, right

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here