Bertemu Ribuan Santri Wonosobo, Ganjar Bahas Pertanian sampai Pengangguran

WONOSOBOZONE – Pengembangan sektor pertanian di wilayah Jawa Tengah kian digencarkan. Bahkan lingkup pesantren turut didorong untuk berpartisipasi aktif dalam mengembangkannya. Hal tersebut terlihat ketika Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjungi salah satu pesantren di Wonosobo, yakni pesantren Al-Mansur​ yang terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Wonosobo Timur, Kec./Kab. Wonosobo, Senin petang (3/10). “Kondisi geografis Wonosobo didominasi oleh lahan produktif. Oleh karenanya, dorongan pengembangan sektor pertanian menjadi salah satu program prioritas kami,” terang Ganjar dihadapan ribuan santri dari berbagai pesantren Wonosobo dalam acara sarasehan bersama Gubernur terkait pengembangan agribisnis pertanian berbasis pesantren.

Menurut Ganjar, dipilihnya pesantren karena wadah dari para santri itu termasuk sasaran strategis dalam memberikan sosialisasi terhadap generasi muda akan pertanian. Mengingat Wonosobo sendiri merupakan wilayah yang memiliki ratusan pesantren. Dengan adanya pengembangan agribisnis pertanian berbasis pesantren tersebut, Ganjar berharap masyarakat Wonosobo dapat terangkat derajat kesejahteraan ekonominya. “Agenda ini diawali dengan penyerahan bantuan berupa 130 ekor kambing dan benih ikan nila maupun lele dan pohon. Pokoknya banyak menyinggung sisi kemandirian ekonomi dengan modal pertanian dan peternakan,” tuturnya.

Ganjar mencontohkan, dengan beternak ayam petelur, satu keluarga bisa makan telur hampir setiap hari. Bahkan dengan berkembangnya agribisnis, para santri bisa belajar life skill, seperti bertani dan kelak saat selesai, bisa mandiri. “Melihat potensi pertanian seperti carica Wonosobo, sebenarnya bisa dikembangkan lagi, misalnya dinaikkan kemasannya agar bisa laku dijual di luar negeri. Selain itu juga ada kopi, jika di rumah tidak ada harganya, di hotel bisa Rp160.000. Untuk masuk Ekonomi dunia perlu kreatifitas. Basis pertanian dan peternakan bisa membekali santri di kehidupannya kelak,” ungkap Ganjar.

BACA JUGA:  Jaga Stabilitas Stok Darah, RSI Wonosobo Gelar Donor Darah Rutin

Salah satu pengelola lembaga keuangan asal kertek yang juga lulusan pondok, Suratno, menyinggung pengelolaan pasar sayur Kertek yang tumpah ke jalan dan pasar Kentang Binangun yang kurang layak. Harapan Suratno, pasar bisa menjadi tempat mencari penghidupan masyarakat sekaligus menjadi tempat yang layak. Terlebih pasar induk Wonosobo juga masih belum bisa difungsikan secaea optimal pasca kebakaran tiga tahun lalu. Sementara itu, pertanyaan lainnya dari Siswi SMPN 1 Wonosobo yang juga santriwati menyinggung soal penggunaan pestisida berlebihan untuk tanaman kentang di tempat ia lahir, yakni Dieng. “Selain dengan menjual langsung ke pasar, sebenarnya menjual online juga bisa memangkas peran tengkulak. Apalagi dengan online tidak harus ke pasar. Kemudian untuk masalah pestisida, memang salah satu solusinya dengan pertanian organik yang sekarang sudah banyak dikembangkan. Masalah lain seperti pengangguran, juga berakar dari pendidikan keterampilan hidup tadi yang diupayakan salah satunya dengan belajar bertani. Kita bisa mengumpulkan anak muda di desa-desa, seperti karang taruna untuk belajar menanam,” pungkas Ganjar. (Ham)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.