• Senin, 15 Agustus 2022

Potensi Alam Lereng Sindoro Bisa Tingkatkan Pendapatan Masyarakat Sekitar, Ini Saran Kadiskominfo Jateng

- Kamis, 7 Juli 2022 | 13:54 WIB
Dialog Diskominfo Jateng dan Diskominfo Wonosobo bersama perangkat desa serta KIM Desa Tlogo. (Dok Pemprov Jateng)
Dialog Diskominfo Jateng dan Diskominfo Wonosobo bersama perangkat desa serta KIM Desa Tlogo. (Dok Pemprov Jateng)
WonosoboZone - Potensi alam lereng Gunung Sindoro dikenal memiliki keindahan alam yang keren, oleh karena itu masyarakat harus bisa mengoptimalkan potensi tersebut untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, dengan mengembangkan pariwisata
 
Perangkat desa bersama Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Tlogo, Kecamatan Garung, Wonosobo, didorong mengembangkan objek wisata di wilayahnya. Termasuk, mengoptimalkan rest area dengan pemandangan alam pegunungan yang indah.
 
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Riena Retnaningrum, saat bersialog dengan perangkat desa dan KIM Desa Tlogo, di rest area setempat, Rabu 6 Juli 2022.
 
 
Dia menunjuk contoh, kawasan rest area Desa Tlogo yang bisa disulap menjadi spot foto, lengkap dengan sajian musik, mengingat di tempat itu juga ada panggung lengkap dengan kursi penonton. Kelokalan warga mesti terus ditonjolkan, karena pengunjung lebih tertarik dengan kearifan lokal yang dianggap unik dan tidak ditemukan di perkotaan.
 
Menurutnya potensi pertanian labu siam dan sayuran lain yang menjadi unggulan wilayah itu, juga bisa dipoles menjadi daya tarik wisata. Termasuk, carica yang menjadi ikon Wonosobo.
 
“Tinggal bagaimana mengubah mindset masyarakat. Apa pun yang dilakukan bisa menjadi cuan. Bahkan masyarakat bisa menjadi guide, menceritakan bagaimana carica dibuat, dari menanam, proses pengolahan, pengemasan, dan sebagainya,” ujar Riena, seperti dikutip dari laman jatengprov.go.id.
 
 
Riena menambahkan, KIM mesti membantu masyarakat untuk mengangkat potensi wilayahnya. Mereka mesti kreatif mempromosikan potensinya, mulai dari potensi alam, kuliner, event, dan sebagainya.
 
Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Jateng, Agung Hariyadi. Menurutnya, pengembangan wisata mesti memperhatikan 3A, aksesibilitas, amenitas, dan atraksi.
 
Untuk aksesibilitas, masyarakat sudah mengupayakan pembangunan jalan. Aspek amenitas juga terpenuhi dengan pembangunan sejumlah sarana dan prasarana, termasuk rest area.
 
 
“Tinggal atraksinya dihidupkan, dengan mendorong pengungkitnya yang menjadi daya tarik masyarakat. Bisa dengan musik, menyuguhkan cerita labu siam yang jadi ikonik, atau kisah tempe kemul,” ujarnya.
 
Agung mendorong KIM untuk lebih gencar memublikasikan dan menjual potensi desa itu. Baik wisata, maupun potensi perkebunan masyarakat.
 
“KiM harus bisa menjadim corong masyarakat,  dengan menjual potensi, sskaligus menjadi agen informasi,” beber Agung.
 
 
Kepala Desa Tlogo, Tulus Khabib Ma’ruf mengungkapkan, sejumlah upaya terus dilakukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satunya, gotong royong mengikhlaskan sebagian tanah untuk akses jalan, sehingga terbangun jalan sepanjang lima kilometer dengan lebar empat meter.
 
Tak hanya itu, pihaknya bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan masyarakat, mengembangkan potensi wisata di wilayahnya. Mereka juga mendapat bantuan dari World Bank yang diwujudkan dengan pembangunan rest area.
 
“Namun pada 2020 lalu, kami terkendala dengan menurunnya wisatawan akibat Covid-19. Tapi ini, dengan mulai bertambahnya wisatawan, diharapkan perekonomian masyarakat meningkat,” ungkap Tulus.
 
 
Sementara, Ketua KIM Seroja Fatkhurohim menyampaikan, pihaknya telah berupaya melakukan pendampingan terhadap UMKM sayur, hingga pengemasan yang layak jual di minimarket. Namun, mereka menemui kendala karena minimarket memberlakukan sistem titip, di mana UKM baru bisa memperoleh uang jika barangnya laku.
 
“Akhirnya ya gagal. Tapi kami juga membantu memberdayakan batik ciprat produksi difabel, yang sampai sekarang masih jalan dan bagus. Bahkan sejumlah dinas di Wonosobo yang sudah memakai (batik ciprat),” terangnya.
 
Ditambahkan, KIM juga memiliki program literasi bagi anak-anak, melalui pengelolaan perpustakaan yang berada di kawasan rest area. Dalam perkembangannya, mereka bekerja sama dengan IPPNU.
 
 
“Kami juga terus berupaya mengembangkan pengelolaan wisata. Mudah-mudahan dengan pertemuan ini, kami bisa lebih baik lagi,” tandasnya. ***
 

Editor: Rochmad Tri Apriliyanto

Sumber: jatengprov.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X