BEM Fastikom Angkat Kebhinnekaan dan Teknologi

HANGAT. Agenda seminar dan diskusi diisi Dandim 0707  Letkol Dwi berlangsung hangat di Aula Al-A’la unsiq Wonosobo, kemarin. Foto Erwin abdillah

WONOSOBOZONE – Usai menggelar prosesi pelantikan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fastikom unsiq Periode 2016/2007, agenda dilanjutkan dengan seminar. Tak hanya para mahasiswa dan dosen, seminar juga mengundang perwakilan siswa dan guru dari seluruh SMA/SMK se-Wonosobo dengan mengusung tema Pengaruh Teknologi Terhadap Kebhinekaan Indonesia. Dikatakan Tunjang Ari Suseno, gubernur BEM Fastikom bahwa tema tersebut diangkat lantaran kondisi RI yang kini sangat terpengaruh dengan teknologi. Semboyan Bhinneka tunggal ika yang menjadi falsafah kesatuan Indonesia seakan mulai dilupakan oleh masyarakat yang dianggap kian maju teknologinya.
Selain mengundang Rektor Unsiq dr Muchotob Hamzah menjadi pembicara pertama, panitia juga mengundang Komandan Kodim 0707 Letkol CZI Dwi Hariyono dan Erwin Abdillah dari unsur Media Massa. Menurut Dandim, kondisi peperangan di era modern ini bukan diartikan dengan pertempuran.
Menurut dr Muchotob, kunci dari teknologi adalah untuk mempermudah kehidupan manusia, bukan menjadi alat yang membawa kehancuran. Bahkan disebutkan bahwa teknologi banyak ditemukan dan diawali oleh para ilmuan Islam di masa lalu. Bahkan dengan ditemukannya teknologi sederhana seperti SMS, bisa memotong banyak jeda komunikasi namun bisa juga disalahgunakan untuk kejahatan. Dilanjutkan dengan pembahasan Dandim 0707 mengenai kemanan nasional dari sudut pandang kebhinekaan yang membeberkan banyak hal menyangkut strategi perang yang telah berubah.
“Sebenarnya center of gravity Indonesia bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga keberagaman. Jika dahulu ada istilah satu peluru untuk satu orang, maka sekarang berbeda. Dengan dihembuskan satu isu yang memecah belah kesatuan NKRI, hal itu bisa menjadi senjata yang berbahaya. Maka butuh seluruh masyarakat untuk mewujudkan konsep pertahanan Semesta,” jelas Dandim.
Lebih lanjut, dicontohkan bahwa selama 300 tahun lebih perjuangan dari daerah-daerah untuk merebut RI dari belanda banyak menemui kegagalan. Namun selama kurang dari 40 tahun, dimulai momentum Budi Utomo 1908 hingga Sumpah pemuda dan proklamasi, akhirnya berhasil menjadikan Indonesia merdeka. Sementara itu, Jurnalis Wonosobo Ekspres Erwin Abdillah yang juga berpengalaman dalam dunia penulisan konten online, membahas sudut pandang dari pembuat berita hoax yang kini mudah tersebar.
“Jika frasa bhinneka tunggal ika yang berasal dari abad 14 lalu bisa menjadi spirit kebangkitan kemerdekaan RI, maka bisa dikatakan pada masa itu sudah tercapai kerukunan yang menyeluruh. Mengingat pada abad ke-9 banyak candi dibangun dengan megah dan bertahan hingga saat ini. Yang mengindikasikan adanya kehidupan yang beragam dan berjalan dengan harmonis. Bahkan pada Kakawin Sutasoma dijelaskan bahwa di era itu, Hindu Siwa dengan Budha bisa bersatu dalam sebuah Negara,” jelasnya.
Para mahasiswa juga antusias mengikuti diskusi seputar perkembangan teknologi yang berdampak pada interaksi manusia dan cara menyikapi suatu permasalahan dan beberapa pekan lalu naik menjadi isu nasional, seperti kasus Gubernur Ahok. (win)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here