Bebas Virus, Benih Kentang Hasil Penangkaran Swadaya Lebih Menjanjikan

WONOSOBOZONE – Upaya para petani kentang di kawasan Dieng untuk bisa lepas dari ketergantungan terhadap benih dari Jawa Barat mulai menampakkan titik terang. Hal itu setelah hasil penangkaran benih swadaya yang dikembangkan di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar sekitar awal Bulan September silam, menunjukkan hasil menggembirakan. “Ternyata hasil penangkaran benih kentang secara swadaya melalui sistem stek dan kultur jaringan ini sangat baik dan bebas dari virus,” terang Pramujim petugas pertanian lapangan (PPL) wilayah Garung-Kejajar, saat ditemui tengah menuai panen bibit kentang hasil penangkaran kelompok tani Tunas Jaya Desa Buntu, Rabu (26/10). Menurut pria ramah yang akrab dengan sapaan Pram itu, benih yang ditangkar para petani dari Buntu tersebut bahkan saat ini telah banyak dipesan oleh para petani. “Kami belum bisa melepas meski pemesanan sudah datang bahkan dari petani asal Kabupaten tetangga, karena akan dilakukan ujicoba tanam terlebih dahulu,” tegas Pram.
Keunggulan benih hasil penangkaran, menurut Pram terletak pada kualitas yang terjamin, karena tak lagi berbentuk Knol alias umbi, melainkan sudah dalam bentuk benih siap tanam yang terjamin kesehatannya. “Benih dengan model penangkaran melalui sistem stek dan sub kultur jaringan ini relatif lebih mudah dibuat, aman dari virus dan lebih cepat karena dalam waktu setengah bulan sudah bisa ditanam,” lanjut Pramuji. Dengan keberhasilan model penangkaran swadaya tersebut, Pram mengaku optimis akan mampu memutus mata rantai impor benih dari luar daerah dalam setahun kedepan. “Ini memang menjadi target kami, yaitu setiap petani atau melalui kelompok akan mampu menangkarkan benih sendiri, karena sekarang kami telah menguasai teknologi dan juga dilengkapi dengan laboratorium mini untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai kultur jaringan,” tandas Pram. Dengan kemampuan mengembangkan teknologi pembenihan secara mandiri, Pram menegaskan para petani di kawasan Dieng tak perlu lagi khawatir mengenai mahalnya benih serta terhindarkan dari mendapatkan benih kentan kualitas rendahan.
Optimisme Pramuji didukung oleh Ifit Taufik, praktisi sekaligus peneliti pola pembenihan kentang secara mandiri. Menurut pria asal Jawa Barat itu, prosedur yang mesti ditempuh dalam penangkaran benih kentang sudah sesuai dengan prosedur yang dipersyaratkan, sehingga jelas benih akan bisa disertifikasi. Secara hasil, Ifit juga menegaskan bahwa benih yang ditangkar secara mandiri dan bebas dari virus tersebut sangat menjanjikan. “Dengan metode penanaman yang benar, minimal hasil panen dengan benih yang kami kembangkan ini bisa mencapai 1 sampai 2 ton kentang per 1000 pohonnya,” jelas Ifit. Apabila dalam satu hektar lahan terdapat 30.000 pohon kentang, maka minimal hasil panen yang bisa dituai adalah 30 Ton. Ifit bahkan menyebut kemungkinan panen maksimal, yaitu mencapai 60 ton per hektar sangat terbuka dengan situasi dan kondisi cuaca maupun iklim yang mendukung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here