Batik Cantik Mengubah Dunia Terbalik

WONOSOBOZONE – Fenomena istri bekerja di luar negeri menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) bukanlah fenomena baru yang kita lihat akhir-akhir ini. Faktor pendorong istri bekerja sebagai TKW diantaranya himpitan perekonomian keluarga, masalah rumah tangga dan kurangnya lapangan pekerjaan di wilayahnya. Fenomena ini pernah terjadi di Desa Rogojati, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo dimana banyak istri  bekerja mencari nafkah di luar negeri sementara para suami mengurus anak dan kebutuhan rumah tangganya. Mirip dengan sinetron Dunia Terbalik yang tayang di sebuah salah satu TV Swasta Nasional.
Berawal dari masalah tersebut, Ketua TP PKK Desa Rogojati Ibu Tulus Yuli Winarsih bekerja sama dengan JPBMW (Jaringan Peduli Buruh Migran Wonosobo) mengajak para ex BMI (mantan buruh Migran Indonesa) khususnya yang perempuan untuk mengikuti kegiatan pelatihan membatik. Hal ini ditujukan agar para ibu-ibu mantan TKW memiliki penghasilan di rumah tanpa harus kembali bekerja di luar negeri.
Ibu Etty Subiyarti, Kepala Desa Rogojati sangat mendukung ide positif ini. Dari pemerintahan desa memberikan bantuan permodalan pertama sebesar 2 juta rupiah di Tahun 2016, dan di Tahun 2017 ini dianggarkan 2 juta lagi untuk pengembangan kegiatan membatik.
Kegiatan pelatihan membatik pertama dilakukan di Balai Desa Rogojati di Tahun 2016, dengan mengundang narasumber dari SARI (Social Analys and Research Institute) Solo yakni sebuah organisasi yang didirikan oleh para aktifis mahasiswa Solo yang didedikasikan untuk memajukan pemenuhan dan perlindungan anak dan perempuan, khususnya anak-anak yang terpaksa bekerja, eksploitasi seksual, berkebutuhan khusus, trafiking dan perempuan yang bekerja sebagai buruh perempuan.
Komunitas membatik di Desa Rogojati ini sekarang beranggotakan 13 orang. Pusat kegiatan dilaksanakan di Dukuh Lemiring, Desa Rogojati. “Kami masih mengadakan pelatihan rutin setiap hari minggu berpusat di Dukuh Lemiring, mudah-mudahan anggotanya semakin bertambah dan Batik “Kembang Jati” semakin berkembang,” ujar Ibu Tulus. 
Menurut para pengrajin, mebuat batik tulis sebenarnya hal yang mudah hanya saja membutuhkan ketelatenan dan inspirasi dalam membuatnya.“Dulu pertama kali saya ikut pelatihan membatik, saya juga belum bisa, bahkan memegang canting pun saya takut karena panas, tapi akhirnya saya tertarik juga untuk bisa membatik hingga berlanjut sampai hari ini,” ujar Bu Sartini salah satu pengrajin batik yang merupakan mantan TKW di Singapura.
Mengingat begitu besar manfaat dari kegiatan membatik di kalangan ibu-ibu PKK yang juga mantan TKW ini, mereka berharap kegiatan ini dapat mendapat tanggapan yang baik dari pemerintah. Adapun kendala yang mereka hadapi saat ini adalah dalam pemasaran produk batik “Kembang Jati”. Produk batik tulis yang mereka buat dibandrol 150ribu per potong bahan. Sementara ini produk batiknya dijual saat ada ekspo-ekspo, dan dijual jika ada pemesanan. Di awal tahun 2017 ini mereka mendapat pesanan batik untuk taplak meja Kantor Desa Rogojati. Harapannya kegiatan ini semakin berkembang dan penjualan produk mereka juga semakin luas, merambah pasar luar wilayah Kabupaten Wonosobo. 
Sagiyem
Fulltimer PKK Kecamatan Sukoharjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here