Azizah, Balita Penderita Bibir Sumbing


Azizah Balita 20 bulan penderita Bibir Sumbing, Down Syndrome dan Kebocoran pada Jantung.


Bersama sang ayah Hariyadi

Down Syndrome Sejak Lahir, Usia 3 Bulan Idap Kebocoran Jantung

WONOSOBOZONE – Biduk keluarga sederhana pasangan suami – istri, Hariyadi (41))dan Srisaptarina Yulianti (41) mendapat ujian berat, ketika pada 20 bulan silam, anak ketiga mereka lahir ke dunia. Berbeda dengan kedua kakaknya, Abdurrahman Zufar dan Abdillah Fauzan yang terlahir normal, anak ketiga berjenis kelamin perempuan itu lahir dalam kondisi tak sesuai harapan. Bibir bayi yang akhirnya dinamai Azizah itu tak utuh, alias sumbing. Belum cukup sampai di situ, 3 bulan setelah kelahirannya Azizah didiagnosa mengalami kebocoran pada jantung, sekaligus diketahui mengidap keterbelakangan mental, atau lazim disebut down syndrome. Sebuah pukulan berat bagi Hariyadi, ayahanda Azizah yang sehari-harinya bekerja sebagai penjual pukis keliling dan penjaga malam di sebuah Kantor pemerintah itu. Ia dan istri mengaku pasrah dengan kondisi Azizah, namun sebagai manusia Hari tak ingin berpangku tangan. Setidaknya, ikhtiar untuk kesembuhan kelainan jantung pada Azizah, ingin diupayakannya secara maksimal.

Ditemui di kediamannya yang hanya berjarak sepelemparan batu dari kantor Bupati, atau tepatnya di RT 02, RW 10, Kampung Prajuritan Bawah, Kelurahan Wonosobo Timur, pada Minggu (23/10), Hariyadi tampak masih kelelahan selepas menjajakan dagangannya.

Kepada Tri Purwanto, Koordinator TKSK Kabupaten Wonosobo, Hariyadi menceritakan kronologis nasib malang yang menimpa putrinya. Di masa awal kehamilan, kondisi sang istri dikatakan Hari tak begitu baik. “Sering kelelahan dengan beban pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, karena saya sendiri jarang ada di rumah untuk kerja siang dan malam,” tutur Hari. Keadaan tak menguntungkan tersebut, menurut Hari diperparah dengan situasi di tempat keluarganya biasa menjemur pakaian, yang tiba-tiba menjadi tempat seekor kucing membuang kotorannya. Ia mengaku sempat berusaha membersihkan, tapi keterbatasan tenaga membuat nya tak bisa melanjutkan kebiasaan itu setiap hari.

“Mungkin saja dari bakteri yang berasal dari kotoran kucing itu kemudian istri terserang penyakit semacam toksoplasma, yang menurut dokter mengganggu pertumbuhan janin,” ungkap Hariyadi. Ia dan istri, diakui Hari memang memiliki keterbatasan dalam hal finansial, sehingga upaya untuk memeriksakan kandungan akhirnya kurang optimal. Setelah lahir, Azizah dikatakan Hari rutin diperiksakan ke rumah sakit karena mengalami gangguan pada pencernaan, hingga akhirnya bahkan harus dirujuk ke RS Sardjito Jogjakarta. Di Jogja itulah diagnosa adanya kebocoran pada jantung Azizah diketahui, namun karena kondisi dan faktor usia, tidak bisa langsung dioperasi. “Menunggu sampai awal Tahun 2017 mendatang untuk bisa dioperasi,” ungkap Hari sembari menahan jatuhnya air mata. Diakuinya, Azizah memang sudah memegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) sehingga untuk pengobatan bisa ia akses tanpa biaya. Tapi, setiap kali periksa, terlebih ketika harus bolak-balik ke Jogja, dana yang dibutuhkan tidak sedikit. “Sangat berat, mengingat penghasilan kami memang tak menentu,” pungkas Hari.

Kondisi mengenaskan Azizah, menurut Koordinator TKSK, Tri Purwanto memang selayaknya disupport banyak pihak. Keluarga Hariyadi, menurut Tri juga belum menerima dana asistensi sosial dari Pemkab, dan kemungkinan baru bisa dimasukkan pada anggaran Tahun 2017 mendatang. Pihak TKSK, ditegaskan Tri juga telah berusaha untuk membantu meringankan beban Hariyadi dengan menyediakan sarana transportasi apabila kelak Azizah hendak menjalani operasi ke Jogjakarta. “Kami mengajak Komunitas peduli sosial Sedekah Rombongan (SR) Wonosobo untuk menyediakan ambulans gratis bagi pak Hariyadi,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Bagian Sosial dan Kesra Setda, Eko Suryantoro mengaku anggaran untuk dana asistensi sosial Pemkab Wonosobo memang sangat terbatas. Melalui Kasubbag Rehabsos, Heri Siswanto, Eko mengungkap rincian penerima dana asistensi sosial untuk Tahun 2016. “Anggaran yang dialokasikan untuk asistensi sosial sebesar 300 Juta dan baru dapat diterimakan pada 226 penderita cacat berat, ditambah 25 penderita lagi yang disupport oleh anggaran dari Kemensos RI,” jelas Heri. Tahun 2017 mendatang, pihaknya telah mengusulkan asistensi sosial bisa dialokasikan anggaran setidaknya 350 sampai 400 Juta, sehingga para penyandang cacat berat seperti Balita Azizah bisa dimasukkan sebagai penerima manfaatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here