Amin Prihantono: Pebasket Nasional Asli Wonosobo

WONOSOBOZONE – Basket, semua orang pasti sangat familiar dengan olah raga ini. Olah raga yang berasal dari Amerika Serikat ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang guru olahraga asal Kanada bernama James Naismith pada tahun 1891. Olah raga ini menjadi sangat populer di Amerika serikat pada tahun 1892. Sejak saat itu permainan bola basket menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia sendiri bola basket mulai masuk pada tahun 1894 melalui saudagar China yang datang ke Indonesia. Bola basket terus berkembang di Indonesia sampai akhirnya lahir atlet-atlet hebat seperti Sonny Hendrawan.
Sahabat wonosobo muda, ternyata Wonosobo memiliki putra daerah yang aktif dan berprestasi di dunia basket lho… yup dia adalah Amin Prihantono. Sosok Amin Prihantono pasti sudah tidak asing lagi para pecinta basket nasional. Sepak terjangnya sebagai pebasket nasional sudah tidak diragukan lagi. Berbagai prestasi kejuaran basket telah diraih oleh mantan kapten Tim SATRIA MUDA BRITAMA ini. Tidak hanya berprestasi di kancah nasional tapi juga Asia. Prestasi tersebut antara lain Juara IBL 2004 ,2006 , 2007 ,2008 ,2009 ,2010 (Bersama SATRIA MUDA BRITAMA), Juara ABL (Asean Basketball League) 2011 bersama INDONESIA WARRIORS, medali perak SEA Games 2009 dan medali perunggu SEA Games 2011 bersama Tim Nasional Indonesia, dsb. Pria yang kerap disapa Amin ini merupakan pure shooter. Peran Amin sangat penting di Timnas maupun di timnya sendiri, defense yang baik dan kemampuan melakukan three point membuat peran Amin tak tergantikan. Tak heran bila Amin berhasil mendapat gelar juara Kontes Slamdunk tiga tahun berturut-turut yaitu 2006,2007,2008.
Ketertarikan Amin terhadap dunia basket bermula saat ia menginjak bangku SMP. Pria kelahiran 27 Mei 1982 ini, awalnya hanya diajak teman untuk ikut basket tapi lambat laun ia menyenangi dunia basket dan mulai menekuninya. Berkat kemampuan basket yang sudah Amin asah sejak kelas satu SMP, saat kelas 1 SMA Amin diajak Pak Heri (guru olah raga SMA N 1  Wonosobo) untuk ikut kejuaraan antar SMA di Banjarnegara. Di kejuaraan tersebut ada bintang tamu klub basket dari Jogjakarta. Setelah selesai kejuaraan, pelatih klub dari Jogjakarta tersebut memberi tawaran kepada Amin untuk ikut seleksi di Halim Gudang Garam Kediri. Pria dua bersaudara ini langsung menerima tawaran tersebut. Untuk masuk ke dalam club terebut Amin harus mengikuti seleksi yang sangat ketat. Setelah melalui seleksi akhirnya Amin lolos dan masuk ke club ini. Ayah Amin memberikan lampu hijau untuk masuk ke club basket tersebut, terlebih lagi saat ia mendengar Amin akan mendapat beasiswa sampai S1. Mengingat kondisi finansial keluarga yang kurang baik karena Ayah Amin hanya berkerja sebagai supir. Dari club inilah awal karir Amin di dunia basket Nasional. Dan dari sinilah Amin berlatih keras setiap harinya untuk meraih cita-citanya sebagai atlet basket Nasional.
Jalan menuju Liga Nasional tidak semulus yang dibayangkan. Setelah dua tahun bernaung di club basket Halim Kediri, Amin merasa tidak ada kemajuan jika dia terus berada di Kediri. Akhirnya ia memutuskan untuk hengkang ke Jakarta. Namun, hengkang ke Jakarta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pria yang mengidolakan Michael Jordan ini hampir mendapat skorsing dilarang bermain basket seumur hidup, karena melanggar kontrak yang telah ditanda-tangani. Seharusnya kontrak tersebut habis setelah Amin lulus S1 di Universitas Kadiri. Ada pepatah mengatakan “Where there is a will, there is a way”. Beruntungnya ada Tim SATRIA MUDA yang mau mengurus masalah skorsing Amin. Akhirnya Amin hanya di skorsing selama satu tahun. Sejak saat itu Amin bergabung dengan Tim Basket SATRIA MUDA BRITAMA. Walaupun sudah berpindah tim dan berpindah domisili, pendidikan tetap nomer satu. Di Jakarta, Amin melanjutkan pendidikan di SMA Alma’ruf Jakarta, dan  STIE PERBANAS Jakarta.
Saat ini Amin Prihantono masih aktif sebagai atlet basket di tim PELITA JAYA EMP. “Sebelum pindah ke team baru saya yang sekarang, saya sempat ditawarin oleh team lama saya (SATRIA MUDA BRITAMA) untuk menjadi asisten pelatih. “Namun saya masih merasa mampu sebagai pemain, dan kebetulan ada tim yg menginginkan saya untuk bergabung. Akhirnya saya memutuskan untuk masih bermain basket sampai dua tahun kedepan” tutur Amin. Amin juga mempunyai harapan besar untuk membawa tim barunya menjadi juara di dua tahun kedepan.
Para wartawan sering bertanya “Apa kuncinya bisa bersaing di dunia basket nasional dengan sarana dan prasarana yang minim di kampung?”. Menurut Amin kunci kesuksesannya adalah kerja keras dan melakukan segala sesuatunya dengan senang hati. Memang benar jika kita melakukan segala sesuatu dengan senang hati hal tersebut bukannya menjadi beban malahan menjadi hal yang menyenangkan. So, sahabat Wonosobo Muda, jangan jadikan kelemahan sebagai alasan untuk mundur dan tidak mau berusaha tapi jadikan kelemahan itu menjadi dorongan untuk mecipptakan peluang kesuksesan. Satu lagi pesan dari Amin Priantono Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan, jangan mudah menyerah, ada kalanya kita terpuruk dan hanya orang-orang pilihanlah yang bisa bangkit dari keterpurukan. Jadi jangan mudah menyerah, jadilah orang terpilih untuk bangkit dari keterpurukan. (Lida)

lintasme.init(‘right’); // options : left, top, bottom, right

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here