Ahmad Karim: Perjuangan Bocah Nggunung Meraih Beasiswa S2 dan Menjadi Lulusan Terbaik di Indiana University, Amerika Serikat

WONOSOBOZONE – “Yang jelas satu, dua, tiga, sepuluh, bahkan seratus kali mencoba dan gagal bukanlah hal yang patut membuat kita berhenti untuk mencoba lagi. Pengalaman sering ditolak sebenarnya sangat penting dan mengajarkan kita untuk menilai kapasitas diri kita sendiri. Kuncinya, jangan ikut-ikutan, yakini kata hati.“ – Ahmad Karim.

Mimpi dan cita-cita adalah soal perjuangan dan kegigihan. Mimpi dan cita-cita bukan cuma hak orang kaya atau orang kota. Mimpi dan cita-cita adalah soal siapa yang mau bangun, berusaha, mencoba, dan terus gigih mencoba hingga kegagalan itu lelah dan berhenti mengejar kita, bahkan kita lupa dengan istilah gagal. Kali ini, Wonosobo Muda berkesempatan mengajak kawan-kawan muda untuk bertemu dengan sosok muda dari pelosok desa Wonokromo, Mojotengah, Wonosobo yang berhasil membuktikan pada kita bahwa kekuatan keyakinan dan keteguhan hati adalah kunci sukses yang melebihi kemampuan fisik dan materi. Melalui Tim Wonosobo Muda, Ahmad Karim menuturkan kisah jatuh bangun perjuangan hidupnya menuntut ilmu dari pelosok desa tertinggal di Kecamatan Mojotengah hingga terbang ke benua Amerika. Selamat menyimak!
Tentang Keluarga
Karim terlahir sebagai anak sulung dari 3 bersaudara yang semuanya laki-laki. Bapaknya hanya berpendidikan SD yang ijazahnya saja tidak ada, mengawali pekerjaan sejak masih sangat belia, sebagai tukang bangunan di desa dan sempat ke Jakarta untuk menjadi kuli bangunan, tidur di terminal, atau lokasi penampungan proyek-proyek infrastruktur ibu kota. Kemudian setelah menikah pernah menjadi penjahit namun gagal total, bertani, menjadi tukang ojek, sampai yang terbaik menjadi mandor proyek di PT Perwita Karya di Andongsili, namun sayangnya kemudian bangkrut di tahun 90-an. Sekarang, Bapaknya sibuk mengajak anak-anak muda penganggur di desa untuk mengembangkan usaha batako.
Ibunya adalah seorang pendidik sejati bagi anak-anaknya, wanita buta huruf yang tidak pernah mengenal bangku sekolah. Masa muda beliau sangat singkat karena pada usia belasan tahun sudah dinikahkan. Sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan buruh di pabrik rokok, namun setelah menikah, sepenuhnya menjadi petani dan ibu rumah tangga. Beliaulah orang yang memiliki mimpi terbesar agar semua anak-anaknya bisa menjadi sarjana, meskipun ia tidak tahu apa dan berapa lama seseorang harus bersekolah sampai menjadi sarjana.
Adik Karim yang pertama berhasil menjadi sarjana dari FKIP UNS Surakarta Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan saat ini bekerja sebagai guru SMK Takhasus Alquran Wonosobo, sekaligus sedang dalam proses menyelesaikan program S2-nya di Universitas Sains Al Quran (UNSIQ), Wonosobo. Adiknya yang kedua berhasil pula menjadi sarjana Jurusan Pendidikan Agama di UNSIQ, Wonosobo.
Perjuangan orang tua yang masih terus terngiang di benak Karim adalah kebiasaan Bapaknya membawa pulang satu tas plastik kepala gereh (rese atau ikan asin, kepalanya saja, bukan ikan asin utuh), untuk makan sekeluarga. Kepala ikan itu didapat dari sang mandor di tempat beliau bekerja sebagai tukang batu, yang sebagian lain juga diberikan ke kucing atau ikan peliharaan oleh sang mandor, dengan alasan akan diberikan untuk kucing di rumah, karena memang biasanya sebagian juga diberika ke kucing atau ikah peliharaan sang mandor. Saat itu, awal tahun 80-an,telur, ikan, dan ayam atau daging masih merupakan makanan sumber protein mahal untuk mayoritas warga di desa. Dengan cara itu, karena kebutuhan sayuran umumnya sudah bisa terpenuhi dari ladang sendiri, uang belanja bisa dihemat dan Bapaknya bisa membelikan sepatu dan tas untuk sekolah. Tak hanya itu, Ibunya pernah sengaja pergi ke toko buku di kota dan menanyakan ke pemilik toko buku tersebut kira-kira buku apa saja yang harus beliau beli agar anak-anak beliau bisa sedikit lebih “pintar” dibandingkan murid-murid yang lain di sekolah. Alhasil beliau pulang membawa buku RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap), meskipun anak-anaknya tak pernah meminta.
Karim dan Sekolah
Karim memulai bersekolah di SDN 1 Wonokromo (kebetulan hanya ada satu SD negeri dan satu MI swasta di desa saat itu). Mayoritas anak SD tidak bersepatu ke sekolah, bahkan saat itu dalam satu kelas hanya Karim yang setiap hari memakai sepatu, dan satu teman lagi yang terkadang memakai sepatu. Sepulang sekolah, sebagian besar teman-teman Karim langsung menggendong keranjang plus menenteng arit (sabit) mencari rumput (ngarit) untuk makanan kambing-kambing mereka di rumah, mengairi sawah, atau mencari kayu bakar. Beruntungnya, sang ibu sedikit visioner, dan melarang anak-anaknya melakukan aktivitas seperti anak-anak lainnya. Karim kemudian melanjutkan sekolah di SMP N 1 Mojotengah dan bersaing dengan anak-anak pintar dari desa-desa lainnya. Dengan support dan doa yang luar biasa dari Ibu-Bapak nya, Karim berhasil masuk 10 besar lulusan terbaik SMP (peringkat 7).
Tahun 1997, ia masuk SMA N 1 Wonosobo dengan batas NEM hampir terendah dibanding anak-anak lulusan SMP lain se-Wonosobo. Hanya 5 anak alumni SMP-nya yang waktu itu bisa tembus SMA N 1 Wonosobo. Meskipun biayanya cukup berat, namun Karim bisa memeroleh beasiswa dari sekolahnya untuk terus bersekolah. Di SMA Karim benar-benar keteteran, prestasi terbaik selama tiga tahun hanya menduduki peringkat 9 dengan upaya yang sangat keras. Jarak rumah ke sekolahnya cukup jauh, harus jalan kaki pulang-pergi sampai Jawar (wilayah yang sudah terakses jalan aspal) dan dua kali naik hijet (angkutan umum) atau naik bis Dieng-Wonosobo, dan jalan lagi ke sekolah dari pemberhentian bis ke sekolah, sehingga energinya benar-benar habis di jalan. Hasilnya, nilai Ebtanas (sekarang UN) SMA membara, bahkan untuk Matematika hanya mendapatkan nilai 3 koma sekian. Untunglah saat itu nilai berapapun bisa lulus asalkan kumulatif dari semua mata pelajaran yang ada di Ebtanas memenuhi syarat passing grade. Dengan tertawa Karim bercanda khas Wonosobo: “Wahnek sekolah jaman saiki, dijamin nyong ora bakal lulus….” (Kalau saya sekolah sekarang, dijamin tidak akan lulus)
Gagal Lolos Ujian Masuk PTN
Karena sudah sampai SMA, meskipun Bapak Karim sebenarnya nekat dan barangkali tidak tega melihat semangat anaknya yang ingin terus sekolah, entah mendapatkan uang darimana untuk biaya kuliah yang harus Karim jalani, dan dengan logat Jawa Wonosobo beliau hanya berpesan singkat, “Bismillah bae, insya Allah ana!” (Bismillah saja, Insya Allah ada). Beberapa hari setelah lulus SMA, ia dan Bagus (seorang teman dekatnya) berangkat ke Jogja untuk mengikuti bimbingan belajar di Neutron sebagai persiapan mengikuti UMPTN (sekarang SBMPTN) di tahun 2000. Di Jogja, mereka kos di Terban, tepat di belakang pasar hewan yang bau harum telek ayam-nya senantiasa menemani sepanjang hari, tempat tidur dengan kasur dipenuhi tinggi (sejenis kutu kasur), namun dengan tarif yang murah dan dekat dengan lokasi bimbingan belajar. Sebelum UMPTN, Bagus dinyatakan diterima di UI dengan jalur PMDK karena dia memang lulusan terbaik SMA N 1 Wonosobo ketika itu. Karim mengambil jurusan IPC dengan pilihan pertama Psikologi UI, kemudian Psikologi UGM, dan Biologi UGM. Meskipun di SMA Karim mengambil jurusan IPA, mimpinya untuk menjadi psikolog ketika itu sangat kuat dan mengapa harus UI atau UGM, karena ia pikir hanya di dua kampus itulah yang memungkinkan mendapatkan beasiswa, sehingga 2 adiknya yang masing-masing hanya selisih 1 tahun juga bisa kuliah.
UMPTN pertamanya ternyata gagal total dan bagi dia rasanya waktu itu benar-benar menjadi kegagalan terbesar yang pernah ia alami. Meskipun demikian, Bapaknya memaksa untuk tetap kuliah tahun itu juga di kampus manapun dan beliau sanggup membiayai berapa pun dan apapun caranya, karena beliau khawatir Karim kehilangan semangat untuk kuliah, dan tentunya malu dengan tetangga di desa (seperti Karim ungkapkan: “sudah ke Jogja kok tidak jadi kuliah”). Teman Karim yang lain (Didik) kemudian memaksa Karim ke Surabaya dan mendaftar program Ekstensi di Universitas Airlangga karena kebetulan kakaknya bekerja di Surabaya. Meskipun ia sebenarnya ragu, apalagi dengan biaya kuliah di program Ekstensi yang jauh melebihi kemampuan orang tuanya, namun karena temannya ngotot, semua biaya pendaftaran akan ditanggung kakak temannya, dan memang saat itu Karim tidak memiliki banyak pilihan, ia pun berangkat ke Surabaya. Hasil ujian di Unair juga dinyatakan tidak lulus dan ketika ia pulang, Bapaknya tetap dengan semangat meminta ia untuk kuliah di manapun, tahun itu juga. Didik pun gagal dan di tahun berikutnya baru diterima di FE Unair.
Akhirnya ia dan teman SMA nya yang lain (Eko), yang juga gagal UPMTN, mendaftar di salah satu kampus swasta yang masih membuka pendaftaran gelombang ke 3, yaitu di Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta. Ia mengambil Jurusan Teknik Industri. Untuk menghemat biaya, karena untuk biaya gedung dan SPP pun sebenarnya ia sudah sambil menangis memberitahukan kepada Bapaknya, ia kost bersama temannya dan tinggal sekamar.
Untuk urusan makan, banyak strategi yang ia terapkan. Pertama, ia biasanya membeli sarapan di pagi hari dan selalu dibungkus, alasannya sederhana, karena warung langganannya mengijinkan pembelinya mengambil nasi, sayur, dan lauk sendiri sebanyak yang pembeli mau asalkan kertas pembungkusnya masih muat. Karena porsi yang ia bungkus biasanya jumbo, sesampainya di kamar, ia bagi dua nasi tersebut untuk sarapan dan makan siang. Untuk makan malam, ia biasanya hanya membeli nasi, daun singkong, dan guyuran kuah khas masakan Padangnya saja (tanpa lauk), atau lauknya sayap dan ceker ayam bakar dari warung Angkringan.
Mencoba Ujian UMPTN Lagi dan Lagi
Menjelang penyelenggaraan UMPTN (kemudian berganti nama menjadi SPMB) di tahun kedua Karim di Jogja, ia bertekad untuk mengikuti tes lagi. Namun, sebenarnya saat itu ia sangat bimbang karena adiknya, juga sudah harus kuliah dan Bapaknya menyarankan untuk tidak usah ikut test lagi. Akhirnya, ia tetap mendaftar dan kemudian mencarikan tempat bimbingan belajar untuk adiknya yang murah meriah namun bisa memberikan bekal menghadapi SPMB. Dengan percaya diri, ia tetap memilih jurusan yang sama seperti pada UMPTN tahun sebelumnya, sementara teman dan adiknya memilih jurusan yang memiliki passing grade lebih rendah sebagai pilihan kedua.
Tiba pada hari pengumuman, teman dan adiknya dinyatakan lulus pada pilihan kedua mereka di UNS, sementara sekali lagi Karim harus gigit jari. Tidak hanya sedih, tetapi juga dihadapkan pada situasi yang sangat dilematis, melanjutkan kuliah di Akprind yang hatinya tidak ada di sana dan beban Bapaknya yang semakin berat, atau mencoba sekali lagi tahun depan dengan pertaruhan yang lebih berat lagi, karena adik keduanya yang secara akademis lebih sering mendapatkan prestasi lebih bagus di sekolah dibandingkan dengannya juga akan memasuki masa kuliah.
Dengan bertaruh antara harus mengulangi UMPTN dan membayar denda di Akprind atau melanjutkan kuliah di sana jika ia tidak lulus lagi di UGM, atau jika pun lulus maka ia juga harus memulai lagi semuanya dari nol dan kehilangan waktu 2 tahun dan biaya yang tidak sedikit, keputusan bulat pun ia ambil. Ia mencoba lagi di kesempatan terakhir tahun berikutnya (syarat mengikuti SPMB saat itu adalah sampai 3 kali dari tahun kululusan kelulusan SMA), dan tidak satupun yang ia beritahu termasuk Ibu dan Bapaknya, dan benar-benar hanya Tuhan yang ia ajak bicara.
Suatu hari ia pergi ke Gramedia dengan niat mencari buku-buku terbaru pembahasan soal-soal SPMB. Alih-alih membeli buku soal SPMB, ia malah kepincut untuk membeli buku “Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities” karya Paul G. Stoltz (1997). Satu pesan yang terus ia ingat dari buku tersebut sampai sekarang adalah “dua pertiga dari keberhasilan adalah kegagalan” yang membuat ia tertantang untuk membuktikan pesan buku tersebut dan meyakinkan diri bahwa ia masih punya “sepertiga” lagi kesempatan untuk menjadi mahasiswa UI atau UGM.
Sampai akhirnya tiba waktu ujian SPMB untuk yang ketiga kalinya, dan ia menempuh ujian berbarengan dengan adiknya yang kedua. Kali ini ia mantapkan hati memilih jurusan IPS karena dari hasil try out, ia tidak pernah mendapatkan hasil bagus pada soal matematika dan jarang sekali bisa tembus pada pilihan pertama. Di sinilah dilema kembali muncul saat ia harus menentukan pilihan jurusan kedua, karena pilihan pertamanya tetap pada Jurusan Psikologi UGM. Akhirnya jurusan Antropologi Budaya UGM terpaksa ia ambil dengan alasan karena ada “logi”-nya (sampai lembar isiannya hampir bolong akibat sering diganti-ganti jurusan dan dihapus) dan barangkali tidak jauh dari Psikologi (waktu itu Karim tidak tahu sama sekali Antropologi belajar tentang apa karena di Jurusan IPA di SMA tidak diajarkan).
Tiba saat hari pengumuman, adiknya tidak lolos dan Karim lolos hanya di pilihan kedua. Antara perasaan syukur dan sedih bercampur di hatinya hari itu. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur karena mimpi menjadi mahasiswa UGM akhirnya terwujud, namun sedih karena membayangkan kuliah di Jurusan Antropologi yang ia tidak tahu apa itu, termasuk bayangan akan kerja apa setelah lulus sebagai sarjana antropologi. Pun, ketika ia memberitahukan kedua orang tuanya, mereka tidak cukup bahagia mendengar kelulusannya karena sudah 4 semester ia lewati sebagai mahasiswa Akprind.
Seorang teman dekat di Akprind bahkan berkata, “ngopo kuliah nang jurusan antropologi, arep dadi opo kowe?” (Ngapain kuliah di jurusan Antropologi, mau jadi apa kamu?), ia hanya spontan menjawab, “aku pengen keluar negeri dab!” yang sebenarnya hanya untuk menghibur dan membesarkan hatinya. Dan sejak saat itu, ia print foto hitam putih di selembar kertas A4 yang biasa ia gunakan untuk mendaftar tiga kali ujian SPMB dan dibawahnya ia tuliskan nama “Prof. Dr. Ahmad Karim, MA”, dan “Go to America”, kemudian ia pasang di tembok kamar yang berlawanan dengan pintu masuk, sehingga setiap kali masuk ke kamar, maka yang pertama kali terlihat adalah foto dan tulisan tersebut. Setelah minta pertimbangan kedua orang tuanya, dan dengan tekad serta janji bahwa ia akan berusaha mendapatkan beasiswa dan lulus bersamaan dengan kelulusan adiknya yang pertama, orang tuanya mendukung, mengiyakan, dan mendoakan dengan cukup berat untuk keputusan yang ia ambil.
Mencari tambahan uang kuliah
Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, Karim harus memutar otak dengan berusaha mencari pekerjaan sampingan manjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar. Pekerjaan tersebut hanya ia jalani beberapa bulan karena memang upahnya tidak seberapa namun menyita banyak waktu dan energi. Ia pun menemui salah satu dosen Pengantar Antropologi-nya (Prof. Dr. Irwan Abdullah) dan menceritakan kondisinya waktu itu, yang kemudian memanggilnya ke ruang kerja beliau di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM. Beliau mengusulkan nama Karim kepada dosen yang lain (Dr. Setiadi) untuk melibatkannya dalam proyek Evaluasi program PKPS BBM (Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM) yang ditugaskan oleh Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Hasil kuliah semester pertama Karim juga cukup memuaskan dengan IPK 3,7, dan dengan modal itu, tidak hanya beasiswa biaya kuliah yang ia dapatkan, tetapi juga beberapa beasiswa yang lain. Mulai saat itu, ia memiliki penghasilan yang lumayan, bebas dari minta uang saku ke orang tua, bisa membeli HP, dan seperangkat komputer bekas untuk mengerjakan tugas, serta sedikit bisa membantu tambahan uang saku untuk adiknya di Solo.
Hampir saja waktu itu ia bisa memecahkan rekor UGM dengan menjadi lulusan sarjana tercepat kurang dari 3 tahun jika tidak tertunda karena ia harus mundur dari Kuliah Kerja Nyata dan mengulang di semester berikutnya. Ia mendapatkan telepon dari ketua Jurusan Antropologi waktu itu (Dr. Pande Made Kutanegara), untuk segera membuat paspor karena ia terpilih menjadi salah satu mahasiswa yang bisa berangkat ke Freiburg, Jerman dari hasil programresearch tandem UGM-Freiburg semester sebelumnya.
Karim lulus sarjana Antropologi UGM dalam waktu 3 tahun, 3 bulan, 20 hari dan manjadi lulusan pertama satu angkatan 2002 dengan IPK 3,52. Ia lulus hampir bersamaan dengan kelulusan adiknya di Solo. Hal yang sangat membahagiakan ia waktu itu bukanlah cepatnya lulus dan IPK, namun menyaksikan Bapak dan Ibunya tersenyum ketika mendengar dan melihat anak mereka dipanggil beberapa kali dalam acara wisuda di kampus, di mana Bapak dan Ibunya pertama kali menginjakkan kaki di Jogja dan kampus UGM adalah ketika ia wisuda.
Mengadu nasib ke Jakarta
Pekerjaan pertama ia di Jakarta adalah sebagai peserta Executive Training Program (ETP) PT Carrefour Indonesia, yang tentunya setelah puluhan atau bahkan tidak terhitung lagi berapa kali ia mengirimkan CV dan surat lamaran pekerjaan, test, dan wawancara ke berbagai perusahaan besar di Jakarta. Hampir semua hal harus dipelajari dan dilakukan, mulai dari cleaning service, merasakan menjadi kasir bahkan dibentak dan “digoblok-goblokan” oleh store manager dan pelanggan. Selama kurang dari satu setengah tahun ia sudah pindah pekerjaan 3 kali, mulai dari Carrefour, kemudian di PT Jababeka di Cikarang sebagai staff Community Development yang harus bergelut dengan preman kampung, dan menjadi staf pribadi seorang pengusaha di Bekasi.
Tahun 2007, ia memutuskan untuk mengikuti test CPNS di tiga tempat, LIPI, Kementerian Pariwisata, dan Bappenas, karena ketiga lembaga tersebut membuka lowongan untuk lulusan sarjana antropologi. Sempat optimis bisa menjadi peneliti di LIPI yang ia anggap memiliki gerbang, tradisi, dan lingkungan kerja yang lebih besar untuk terus sekolah, sehingga ia sempat ogah-ogahan mendaftar ketika seorang teman memberitahukan ada posisi untuk lulusan antropologi di Bappenas dan Kementerian Pariwisata. Cukup down memang ketika mengetahui bahwa ia tidak lulus di LIPI karena jarak antara resign dari tempat kerja sebelumnya dengan pengumuman di Bappenas hampir 3 bulan, dan kondisi ini benar-benar menguras habis tabungan yang tidak seberapa. Kemudian ia juga mengharapkan bisa diterima di Kemenbudpar, tetapi Tuhan justru “menjerumuskan” Karim ke Bappenas (Badan Perencanaan pembangunan Nasional).
Disinilah mimpi sekolah ke luar negerinya mulai tumbuh kembali. Cukup banyak memang sumber beasiswa yang dapat diakses ketika sudah berstatus PNS untuk meneruskan sekolah S2 di luar negeri, seperti Australia dengan AUSAID, UK dengan Chevening, Belanda dengan STUNED, Jepang dengan JICA, dan Amerika yang menjadi incaran utama Karim dengan berbagai sumber seperti Fulbright, USAID Prestasi, Bank Dunia, bahkan dengan beasiswa yang dikelola DIKTI. Meskipun demikian, karena ia memutuskan untuk menikah terlebih dahulu, dan setahun kemudian dikaruniai anak, serta beberapa lamaran beasiswa yang ia daftar ditolak, butuh waktu beberapa tahun untuk terus mencoba dan mencoba lagi, sampai akhirnya Amerika “memanggil” Karim melalui program beasiswa SPIRIT. (Kisah ini juga pernah Karim ceritakan di http://indonesiamengglobal.com/2014/06/mimpi-sekolah-dan-jendela-dunia-bagian-1/)
Perjalanan ke Amerika
Perjuangan Karim tidak semulus itu, ia masih harus mendapatkan kampus tujuan studinya dan mendapatkan skor bahasa inggris yang mencukupi. Lewat program tahunan kantor ia ikut pelatihan bahasa inggris. Namun, setelah 6 bulan, skor bahasa Inggris Karim juga tidak mengalami kenaikan yang signifikan, bahkan sampai jatah mengikuti test resmi yang dibiayai oleh SPIRIT habis. Beruntunglah, hasil test bahasa Inggris terakhir (lagi-lagi dengan filosofi “dua per tiga kegagalan”) yang terpaksa harus ia ikuti dengan biaya sendiri, dapat ia gunakan untuk melengkapi persyaratan pendaftaran meskipun nilainya sangat mepet dengan skor minimal yang dipersyaratkan (IELTS 6). Seminggu sebelum lebaran Idul Fitri tahun 2012, meskipun untuk mendapatkan VISA ke Amerika juga memerlukan perjuangan sampai di detik-detik terakhir, akhirnya Karim terbang ke Indianapolis untuk menjemput salah satu impiannya, kuliah di Amerika, dan juga mimpi yang lain, menyaksikan aksi balapan Valentino Rossi secara langsung.
Seorang anak dari pelosok desa di Wonosobo berhasil mendapatkan beasiswa full progrm S2 Antropologi Terapan di Indiana University, USA, dari Beasiswa SPIRIT Bappenas-Bank Dunia tahun 2012, yang juga memungkinkan untuk mangajak anak dan istrinya menemani selama ia belajar di sana. Bahkan istrinya juga bisa mengikuti program non gelar peningkatan kemampuan bahasa Inggris dengan gratis di Indiana Public School, sementara anaknya juga bisa mengikuti program Pre-School secara gratis dengan fasilitas Head Start di Indiana.
Di kampus, Karim aktif mengikuti konferensi dan penelitian isu-isu kemiskinan dan kemanusiaan. Tahun 2014, ia mengikuti Annual Conference of Society for Applied Anthropologist (SfAA) 2014 di Albuquerque, Negara bagian New Mexico untuk mempresentasikan hasil penelitian thesis tentang Homeless Activism. Ia juga mewakili delegasi Indonesia dalam 2nd Expert Group Meeting on Enhancing National Capacities Of Organization of Islamic Countries (OIC) In Poverty Statistics tahun 2014 di Ankara –Turki. Ia juga diganjar Ambassador’s Award for Excellence (AAFE) tahun2014, sebuah penghargaan dari Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Washington DC, Amerika Serikat atas prestasi dan aktivitas akademis yang dicapai selama mengikuti program S2 di Amerika Serikat. Karim berhasil menyelesaikan studi masternya dan menjadi salah satu lulusan terbaik Indiana University dengan IPK 4.00.

Mimpi untuk Wonosobo dan Indonesia
Sebagai Perencana Muda di Bappenas, ia suka mendalami kajian isu-isu kemiskinan, membantu mendesain, monitoring dan evaluasi program-program penanggulangan kemiskinan di Indonesia, khususnya yang menggunakan pendekatan community empowerment (pemberdayaaan masyarakat). Sejak pulang S2, ia dipercaya menjadi koordinator Nasional Pro-Poor Planning, Budgeting, and Monitoring (P3BM), yaitu pelatihan penyusunan dokumen perencanaan pembangunan yang berpihak pada masyarakat miskin berbasis pencapaian target MDGs untuk aparat Bappeda dan dinas-dinas teknis di tingkat provinsi dan Kabupaten/kota seluruh Indonesia.
Secara pribadi ia punya mimpi mengajak keluarga menyaksikan salah satu kebesaran Tuhan, Aurora (negara-negara yang ada Aurora-nya memiliki indeks kebahagiaan, kemakmuran, dan pendidikan yang unggul di dunia, yang akan ia pelajari dan tularkan ke adik-adiknya kelak), di belahan bumi yang lain. Ia juga akan terus “bersekolah” menceritakan detail perjalanannya ke anak sebagai bekal masa depannya yang ia yakin akan lebih menantang, karena masa depan Indonesia ada di tangan anak-anak sekarang. Selain itu, dengan berbagai aktivitas, terutama dalam wadah capacity building P3BM saat ini, target ia sederhana, mengajak anak-anak kampung membuka mata lebar-lebar bahwa keterbatasan adalah cara lain Tuhan untuk menunjukkan bahwa kita (anak kampung, anak gunung, anak ndeso) memiliki keunggulan yang bisa kita optimalkan.
Untuk kawan-kawan muda di Wonosobo, ia berpesan : Maju terus dengan mimpi kawan-kawan, walaupun terkadang kita butuh mundur sejenak, karena dalam sebuah tendangan penalti, seorang striker akan mundur beberapa langkah sebelum menendang bola untuk menghasilkan tendangan yang akuratApapun rencana kita tentang sekolah, jurusan, bahkan karir, kita harus bisa menyederhanakan niat (terutama untuk Ibu Bapak kita), karena dalam perjalanan selanjutnya, kita akan menemukan hal-hal yang sebenarnya diluar kemampuan kita, tetapi terwujud begitu saja.
Ia juga menambahkan, banyak dari kita lupa bahwa kita tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan untuk menjadi sukses, apalagi jika yang sering kita pahami dengan istilah sukses adalah hasil kerja keras yang mengabaikan nilai-nilai yang Tuhan ajarkan. Kita disanjung Tuhan sebagai mahluk terbaik dengan satu syarat, yaitu jika keberadaan kita kapanpun dan di manapun mampu memberikan kebahagiaan dan manfaat bagi kebaikan orang lain. Semua proses itu, sekolah dan mimpi-mimpi kehidupan yang ia alami adalah satu dari berjuta jalan yang dapat kita pilih, kita tentukan, dan kemudian kita tekuni untuk menuju sebuah nilai kedewasaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here