85 % Korban Kekerasan Seksual di Wonosobo Masih Dibawah Umur

WONOSOBOZONE – Dari 131 kasus kekerasan seksual yang ditangani UPIPA Wonosobo, selama tahun 2015, 85 % korban diantaranya masih anak-anak, hal ini diungkapkan Ketua UPIPA Wonosobo, Nuraini Ariswari, Senin, 23 Mei di depan 85 orang peserta sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual pada perempuan dan anak di Pendopo Kabupaten, yang digelar bersama DINHUBKOMINFO Provinsi Jawa Tengah.
Menurutnya, dari sekian kasus yang terjadi di Wonosobo ada yang korbannya masih di bawah umur dan pelakunya adalah ayahnya sendiri. Dengan banyaknya kasus yang terjadi akhir-akhir ini, anak harus diberi pendidikan seksual sejak dini, diantaranya dengan mengenalkan area tubuh mana saja yang boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain, dan mana yang tidak. Selain itu sangsi sosial dan hukum juga harus dimaksimalkan, seperti hukuman pelaku kekerasan seksual minimal 25 tahun sampai hukuman mati.
Hal senada juga diungkapkan narasumber dari POLRES Wonosobo, Kanit PPPA, AKP Sabar, yang mengungkapkan bahwa korban kekerasan seksual yang terjadi di Wonosobo, sebagian besar masih anak-anak dan dilakukan oleh orang yang masih dekat dengan korban. Berdasarkan data selama tahun 2015 di Wonosobo, sedikitnya ada 36 kasus yang telah diproses POLRES Wonosobo, meliputi kasus persetubuhan sebanyak 16 kasus, pencabulan sebanyak 2 kasus dan perkosaan sebanyak 1 kasus. Dari sekian kasus tersebut, sangsi hukuman yang diberikan kepada pelaku rata-rata sudah berat, yakni di atas 7 tahun.
Menurutnya, korban kekerasan seksual penangananya tidak bisa hanya terbatas dengan hukuman terhadap pelaku dan medis saja, tetapi yang lebih penting adalah pendampingan psikologi, dengan menjauhkan mereka dari stimulus destruktif yang dapat mengingatkan korban terhadap kejadian yang dialaminya.
Sedangkan menurut psikolog dari RSUD Wonosobo, Harrista Adiati, secara psikologi, cara mencegahnya bisa dilakuklan dengan mengembalikan prinsip keluarga parenting atau pengasuhan oleh ayah dan ibu, serta fathering atau peran ayah yang lebih optimal. Ia menambahkan, 99 % narapidana di Nusa Kambangan, pernah bermasalah dengan ayahnya. Hal ini menunjukkan peran ayah sebagai imam dalam keluarga sangat penting dalam mencegah perilaku yang salah pada anak.
Sementara, Kasi Pengembangan Kominfo, Rum Dewantari, mengungkapkan, pihaknya sengaja berkeliling ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah, untuk memfasilitasi Pemkab/Pemkot dalam mensosialisasikan kebijakan dan hasil pembangunan kepada Ormas dan LSM, khususnya terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Mengingat kasus ini, seperti yang disampaikan Presiden Jokowi, penanganannya perlu dilakukan secara khusus, baik untuk pelaku maupun korban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here