34 Delegasi Pariwisata Se-Jateng Pelajari Tata Kelola Wisata Di Desa Tertinggi di Pulau Jawa

WONOSOBOZONE – Daya tarik kawasan desa wisata Sembungan, yang populer dengan Sunrise bukit Sikunir nya, menjadi perhatian serius para peserta pendidikan dan latihan (Diklat) Kepariwisataan dari 34 Kabupaten/ Kota se-Jawa Tengah, yang mengunjungi Wonosobo, Selasa (16/8). Dalam penerimaan kunjungan di gedung Tourist Information Centre (TIC) Dieng, Kepala rombongan delegasi diklat kepariwisataan, Sutomo menyebut bahwa tujuan diajaknya para peserta ke Dieng adalah untuk mempelajari bagaimana tata kelola kepariwisataan di desa tertinggi di Pulau Jawa itu.
“Dieng dan Sunrise Sikunir begitu tersohor, tak hanya di dalam Negeri, melainkan sudah sampai ke Mancanegara, sehingga kami merasa perlu belajar mengenai bagaimana warga desa mengelola potensi luar biasa tersebut,” ungkap Sutomo. Selama 2 hari, Sutomo mengatakan ke-34 peserta Diklat bakal berkeliling kawasan Dieng, dan utamanya ke Sikunir dan Sembungan untuk melengkapi objek pembelajaran.
Kepala Kantor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Agus Purnomo yang menerima langsung kunjungan para delegasi pelatihan kepariwisataan dari Badan Diklat Propinsi Jawa Tengah tersebut mengakui, saat ini Dieng memang tengah menjadi perhatian pemerintah Provinsi. Menurut Agus, kawasan Dieng bersama Karimunjawa, Candi Borobudur, dan Sangiran telah ditetapkan sebagai destinasi wisata prioritas. Popularitas Sikunir dengan Sunrise nya, dikatakan Agus tak bisa dipungkiri, menjadi salah satu alasan sehingga Pemprov memilih Dieng sebagai prioritas pengembangan kawasan wisata Jawa Tengah. “Desa wisata Sembungan tak hanya terkenal dengan panorama matahari terbitnya yang banyak dikatakan sebagai yang terbaik di Asia, tapi ada pula telaga Cebong yang bisa dijelajahi dengan menggunakan perahu wisata,” jelas Agus. Menurutnya, berkembangnya Sembungan, tak dapat dilepaskan dari kerja keras warga dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sampai saat ini terus berupaya membenahi akses dan fasilitas wisata. “Pemerintah juga turun tangan pada upaya menata desa dengan program untuk memperbaiki infrastruktur, sanitasi, ketersediaan air bersih dan pengelolaan sampah,” terang Agus.
Pihak Kantor Parekraf sendiri, diakui Agus juga mengupayakan agar kesadaran warga masyarakat Sembungan kian meningkat, seiring semakin banyaknya kunjungan ke desa mereka. “Kami memiliki program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan warga, terutama dalam pengelolaan potensi pariwisata di desa mereka,” tandas Agus. Potensi-potensi pendukung wisata, seperti kuliner khas, kerajinan maupun keterampilan memandu wisatawan asing, menurut Agus juga terus diberikan kepada warga masyarakat, agar mereka mampu berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi para pengunjung yang datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here