​Senin, Rita Pasaraya Wonosobo Sudah Tak Beroperasi


WONOSOBOZONE- Pemerintah Kabupaten Wonosobo meminta Managemen Rita Pasaraya Wonosobo menghentikan kegiatan usahanya di Gedung Plasa Wonosobo, Senin (12/2) mendatang. Penegasan itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Wonosobo Eko Sutrisno Wibowo saat pertemuan lintas sektor, guna mengumumkan kesepakatan batas akhir waktu toleransi operasional usaha Rita, di Ruang Mangunkusum Setda Wonosobo, Jumat (9/2) pagi.

Hadir dalam kesempatan itu, Sekda Eko Sutrisno Wibowo mewakili Bupati Eko Purnomo dan Wakil Bupati Agus Subagiyo yang berhalangan hadir karena tugas luar. Turut hadir Owner PT Rita Ritelindo Purwokerto, Buntoro dan segenap managemen pusat perbelanjaan tersebut. Hadir pula sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Paguyuban Pedagang Pasar Induk Wonosobo (PPIW), Paguyuban Pasar Plasa Wonosono (PPPW) dan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Rita.

Dalam kesempatan itu, Pemkab Wonosobo tidak memberikan ruang dialog, namun hanya membacakan komitmen bersama yang telah disepakati antara pemerintah dengan stakeholders lain pada 12 Maret 2017 lalu. “Semua yang terlibat dalam penandatanganan komitmen bersama batas toleransi 11 bulan bagi Rita pada 12 Maret 2017, kami undang. Tugas kami selalu eksekutif, adalah mengeksekusi kesepakatan apa yang sudah dibuat bersama,” ungkapnya. 

Menurut dia, dalam pembacaan kesepakatan bersama tersebut, semua pihak, bahkan Managemen Rita menerima dengan lapang dada atas keputusan tersebut. Hal itu karena sudah menjadi kesepakatan yang mengikat dan tidak bisa dirubah. “Kami harapkan, Managemen Rita Pasaraya Wonosobo menutup kegiatan usahanya di Gedung Plasa pada Senin. Untuk kebijakan waktu pengosongan gedung kami serahkan Dinas Perdagangan,” tandas dia.

Dikatakan, terkait kesempatan waktu toleransi 11 bulan hendaknya bisa dimanfaatkan Rita untuk melakukan rencana pemindahan usaha. Namun, sampai dengan menjelang batas akhir kesepakatan, baru Rabu (7/2) Rita mengajukan ijin prinsip kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). “Harusnya ijin prinsip diurus hari kedua setelah kesepatan itu, sehingga waktu 11 bulan bisa dioptimalkan,” terangnya. 

Sementara itu, Owner PT Rita Ritelindo Purwokerto, Buntoro menyebutkan, pihaknya menerima keputusan tersebut dengan lapang dada, meskipun cukup berat. Sebagai warga negara yang baik, pihaknya konsisten dengan kesepakatan bersama yang telah ditandatangi pada 12 Maret 2017. “Kami terima dengan lapang dada. Meskipun terasa berat, karena harus mengorbankan ratusan karyawan yang merupakan warga Wonosobo,” ungkapnya.

Terdapat sekitar 400 karyawan warga Wonosobo yang saat ini masih bersedih. Tawaran kepada para karyawan untuk dipindah tugaskan di sejumlah ritel milik Rita, baik di Purwokerto, Cilacap maupun Tegal, masih dinogosiasi managemen di Wonosobo. “Karyawan ada 400an, kalau sama keluarga mereka yang mungkin bisa 1.000an. Karena warga Wonosobo, mereka masih berharap bisa tetap di Wonosobo,” tutur Suratno, Konsultan Hukum Managemen Rita Ritelindo Purwokerto.

Pihaknya mengharapkan kebijakan pemerintah daerah memberikan waktu untuk managemen melakukan pengemasan barang-barang. “Untuk usaha akan kami tutup Senin besok. Tetapi kami minta kebijakan untuk proses pengemasan barang-barang. Kami harapkan para karyawan tetap bersabar, karena kami tengah mencarikan solusi yang benar-benar mengakomodasi semuanya,” terang dia. (mar)

BACA JUGA:  Gerakan Nasional Indonesia Bersih di Terminal Mendolo

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here