​30 Tahun Sebatang Kara Berjuang Melawan Penyakit


WONOSOBOZONE​ – Hidup sebatang kara dirumah peninggalan almarhum Ayahnya dengan kondisi cacat fisik, tidak membuat Turahno Warga Dusun Simbang RT.01 RW.01 Desa Simbang Kecamatan Kalikajar, Wonosobo menjadi patah semangat. Meski terhimpit persoalan ekonomi, Ia tetap tegar menjalani kehidupannya dengan keterbatasan fisik pada jari tangan dan kedua kaki. 
Ia susah berjalan lantaran kaki kanannya membengkak sebesar kepalan tangan orang dewasa. Untuk aktivitas sehari-hari Pria kelahiran Wonosobo, 28 Agustus 1979 itu harus menggunakan sepasang kruk sebagai alat bantu guna menopang tubuhnya. Sementara kondisi jari-jari tangannya kaku serta bengkok yang disertai rasa gatal yang luar biasa.
Kala itu, saat usianya menginjak 8 tahun, dirinya jatuh dari pohon saat hendak mencari kayu bakar di hutan. Ia jatuh dan terperosok menimpa rerumputan berduri tajam. Sesaat setelah terjatuh tiba-tiba pergelangan kaki kanannya mengalami memar serta bengkak dengan beberapa luka sobekan dari duri-duri rumput yang menancap dikulitnya. Kedua tangannya juga mengalami luka-luka akibat tertancap duri rumput itu. Awalnya ia mengira itu hanya terkilir biasa. Karena keterbatasan biaya, saat itu ia hanya dibawa ke tukang urut. 
Pasalnya, pada saat itu fasilitas kesehatan seperti Puskesmas maupun klinik kesehatan di Desa tersebut masih sangat minim. Untuk ke rumah sakit, ia harus menumpuh jarak puluhan kilometer dari rumahnya, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dokter yang menanganinya mendiagnosa, jari tangan dan juga pergelangan kaki Turahno mengalami infeksi karena pada saat terjatuh tidak dilakukan penanganan medis yang benar yang akhirnya mengakibatkan cacat permanen. 
Masa kecil Turahno sama seperti anak seusianya pada umumnya. Ia terlahir dengan kondisi fisik yang normal dan kehidupannya juga bahagia.Namun kondisi itu seketika berubah ketika Yang Maha Kuasa memberi cobaan berupa cacat fisik yang membuatnya tidak bisa berjalan dengan normal lagi. Ditambah, sang ayah yang meninggalkannya pada tahun 2012 lalu. Sedangkan ibunya telah tiada sejak ia masih kecil. Ia sempat merasa terpuruk selama beberapa tahun. Harapannya untuk bisa berkeluarga seakan telah pupus.

Hidupnya terasa hampa karena sampai saat ini belum menemukan seorang wanita yang bersedia mendampingi masa-masa sulitnya. “Pernah kepikiran untuk berkeluarga mempunyai istri dan anak, tapi wanita mana yang mau sama pria dengan kondisi fisik yang seperti ini?,” tutur Turahno sambil matanya berbinar-binar. 
Kondisi ekonomi Turahno yang serba terbatas membuat warga sekitar tergugah hatinya untuk sedikit meringankan bebannya. Dengan memberikan sembako beberapa waktu lalu. Dirumah peninggalan mendiang Ayahnya yang berukuran 10×5 meter inilah Turahno menghabiskan waktunya setiap hari seorang diri tanpa sanak saudara Kondisi rumah sangat memprihatinkan, selain tanpa adanya perabotan rumah tangga seperti meja, kursi, dan almari, didalamnya hanya ada dua ruangan. Terlihat di beberapa sisi tembok telah mengelupas dengan material tembok rontok. Diruangan pertama ada 2 buah televisi yang beralaskan tikar lusuh. Sedangkan diruangan kedua ada ranjang tidur beralaskan tanah yang menjadi satu dengan dapur tempat Turahno biasa memasak. Kemudian untuk kamar mandinya berada didepan rumah, itupun hanya bilik tanpa atap yang ditutup kain dan seng dibagian samping. Untuk kebutuhan mandi, memasak dan mencuci baju, Turahno hanya mengandalkan mata air dari pegunungan.
Saat ini, Pria berusia 38 tahun yang mempunyai nama kecil ‘Turah Sardi’ ini menggantungkan hidupnya dari hasil usaha rental Playstasion (PS) dirumahnya. Usaha rental PS ini sebenarnya bentuk bantuan dari warga sekitar yang simpatik dengan kondisinya. Dia diberikan modal untuk membuka rental PS dengan maksud dapat membantu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Rental PS itu pun menjadi satu-satunya sumber penghasilan Turahno sejak 2 tahun terakhir.
Tarif yang ia patok untuk bermain PS adalah 3 ribu rupiah perjam dan jika bermain 2 jam hanya membayar 5 ribu rupiah saja. Dalam sehari biasanya hanya ada 2 sampai 4 anak yang bermain PS dirumahnya. Itu artinya uang yang ia terima hanya 10 ribu rupiah. Dengan uang itu biasanya ia belikan beberapa biji tahu kuning dan kecap sachetan untuk lauk makan. Tentu itu masih jauh dari kata layak. Terkadang ia harus menahan lapar seharian ketika tidak ada satupun anak yang bermain PS. Ketika sudah seperti itu, Turahno hanya bisa pasrah dengan keadaan sembari menunggu ada tetangga yang berbaik hati memberikan makanan. 
Sementara Ponijan, Ketua RT.01 RW.01 berharap ada perhatian khusus dari pemerintahan daerah kepada Turahno. “Saya sangat prihatin dengan kondisi Turahno saat ini. Saya juga berharap ada perhatian khusus dari Pemerintah Desa maupun Pemerintah Daerah agar diberikan bantuan berupa sembako, peralatan rumah tangga, dan juga dibangunkan kamar mandi yang lebih layak. Mengingat kamar mandi yang ada bukan bangunan permanen melainkan hanya bilik yang dikelilingi kain dan seng sebagai penutup sampingnya yang kapanpun bisa terhempas terbawa angin,” pungkasnya saat ditemui dikediamannya Sabtu (2/12).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here